Perampokan Meningkat

Kompas.com - 02/07/2011, 03:52 WIB

Jakarta, Kompas - Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya memperkirakan akan terjadi peningkatan perampokan atau kejahatan pada bulan-bulan mendatang. Perkiraan tersebut berdasarkan analisis kalender keamanan dan ketertiban masyarakat.

Polda Metro Jaya juga mewaspadai kemungkinan kelompok teroris terlibat perampokan untuk mengumpulkan dana bagi kegiatan mereka.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Sutarman, Jumat (1/7), terkait kasus perampokan yang banyak terjadi belakangan ini dan semakin berani. Sejumlah kasus menonjol juga belum terungkap pelakunya.

”Berdasarkan analisis dan evaluasi terhadap kalender kamtibmas, menjelang puasa dan Lebaran kita selalu dihadapkan pada meningkatnya kriminalitas. Mungkin sampai menjelang Tahun Baru kriminalitas meningkat,” papar Sutarman.

Polda Metro Jaya juga tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa meningkatnya perampokan belakangan ini terkait dengan pelaku aksi terorisme yang belum ditangkap.

”Dengan terputusnya aliran dana mereka, kelompok teroris akan mencari sumber dana lain untuk membiayai kegiatan operasional. Mereka juga mencari senjata. Itulah mengapa targetnya polisi. Mungkin begitu polisi lengah, mereka diserang dan senjatanya juga diambil,” tuturnya.

Semua itu menjadi tantangan bagi jajarannya untuk mengatasi dan menekan kejahatan. Termasuk di antaranya adalah menyiasati kondisi di masyarakat yang mudah mendapat senjata api rakitan.

Sutarman juga meminta masyarakat untuk tidak ragu meminta bantuan polisi kalau harus membawa barang berharga atau uang dalam jumlah besar dari satu tempat ke tempat lain.

Sulit identifikasi

Hari Kamis lalu, Bank Danamon Simpan Pinjam Kantor Cabang Pembantu di Jalan Latumeten, Jakarta Barat, dirampok empat orang pada pukul 11.00. Dua di antara pelaku membawa senjata api. Uang Rp 46 juta dari laci kasir dan milik pegawai dibawa kabur.

Ketika terjadi perampokan, hanya ada lima pegawai di dalam bank. Petugas keamanan sedang bertugas mengawal di lapangan. Kelima pegawai diikat dengan tali rafia dan mulut mereka ditutup lakban.

Kepala Polsek Metropolitan Tambora Komisaris Hery Dian Dwiharto mengatakan, polisi masih menyelidiki keempat pelaku perampokan. Tidak adanya kamera pengawas di dalam bank diakui mempersulit identifikasi pelaku.

”Kami masih melakukan penyelidikan. Faktor utama yang mempersulit adalah tidak adanya kamera pengawas,” kata Hery.

Para pelaku mengenakan helm dan penutup wajah sehingga sulit dikenali. Kendati demikian, polisi berupaya mengenali pelaku dari postur tubuh, gerak-gerik, dan sidik jari.

Bank Danamon Simpan Pinjam itu, kemarin, tetap beroperasi seperti biasa. Tidak ada garis polisi yang melintang di depan bank. Salah satu pegawai menuturkan, bank tetap buka dan beraktivitas seperti biasa. Lima pegawai yang kemarin menjadi korban perampokan diliburkan.

Rampok sepeda motor

Kemarin siang, dua perampok bersenjata juga menggondol satu sepeda motor dan kabur setelah melepaskan tembakan peringatan di Kampung Pasir Limus RT 007 RW 04 Desa Wangunharja, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.

Sepeda motor yang dirampok itu milik warga bernama Rusli Ginanjar (24), yang diambil dari halaman depan rumah. Pencurian itu diketahui Rusli dan sejumlah warga. Akan tetapi, warga gentar akibat perampok bersenjata pistol dan melepaskan tembakan ke udara dua kali. ”Perampok menembak untuk menakuti warga,” kata Kepala Polsek Cikarang Utara Komisaris Syaiful Bahri.

Kamis (30/6), kejadian serupa terjadi. Seorang pencuri sepeda motor melepas tembakan saat kepergok melakukan aksi kejahatan di Warnet Q-Net saat penjaga Warnet, Idham Cholid (22), memergokinya sedang menuntun sepeda motor milik pengunjung warnet bernama Nurhasanah (38).

Tidak merangkap

Kapolda Metro Jaya telah memerintahkan jajarannya untuk meningkatkan kegiatan, misalnya, memerintahkan bintara pembina kamtibmas tidak boleh lagi merangkap tugas-tugas lain. Mereka hanya boleh bertugas memonitor kamtibmas di wilayah tugas masing-masing.

”Setiap malam, selama dua jam, jajaran di wilayah melakukan razia. Ini perintah kami,” ungkap Sutarman.

Pengoperasian 38 mobil sentral pelayanan masyarakat di wilayah-wilayah juga bertujuan mendekatkan polisi ke masyarakat sehingga jika ada gangguan kamtibmas warga dapat segera melapor. Polisi pun bisa cepat bertindak sehingga pelaku cepat tertangkap.

”Anggota kami yang berpakaian preman dilengkapi juga dengan senjata. Jadi, begitu menemukan kriminalitas, mereka dapat langsung dan siap melakukan penangkapan,” tutur Sutarman.

Sutarman juga berharap pihak kejaksaan dan pengadilan tidak ragu-ragu menuntut dan menjatuhkan hukuman yang setimpal agar memberi efek jera kepada para pelaku kejahatan kambuhan. (RTS/FRO/BRO/NDY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau