Ayam Kampung Goreng Pagi Sore, Empuk!

Kompas.com - 03/07/2011, 06:25 WIB

KOMPAS.com -  Kawasan Pecinan di daerah Pondok adalah surganya kuliner Kota Padang. Aneka kuliner khas Minang sampai masakan China bisa Anda temukan di sini. Salah satunya adalah Rumah Makan Pagi Sore yang dikelola Hajjah Rostina (50).

Rumah makan dengan menu masakan khas Padang itu telah berdiri sejak tahun 1947. Papan kayu bertuliskan "Pagi Sore" menyambut tamu di teras rumah makan. Papan itu begitu melegenda dan sudah ada sejak rumah makan pertama kali buka. Sebuah benda yang menjadi saksi hidup perjalanan rumah makan yang diwariskan turun temurun.

"Rumah makan ini punya mertua saya. Lalu diwariskan ke suami saya. Suami saya meninggal, jadi saya yang teruskan," kata Rostina. Kini di usianya yang senja, Rostina tetap gesit melayani para tamu. Tak hanya itu, setiap pagi dan sore, Rostina masuk ke dapur dan memasak sendiri menu-menu yang dihidangkan.

Memasak dua kali dalam sehari tersebut sudah menjadi tradisi RM Pagi Sore. Apakah karena itu rumah makan itu diberi nama "Pagi Sore"? "Tidak tahu pasti juga. Namanya dari mertua saya sudah begitu. Katanya biar mudah diingat," ungkap Rostina. Rostina dibantu oleh beberapa pekerja yang semuanya masih ada hubungan kekerabatan.

"Anak dan menantu juga bantu. Suatu saat mereka yang akan meneruskan rumah makan ini," katanya. Bahkan menantu perempuan Rostina sudah ikut membantunya memasak di dapur.

"Wajib bagi perempuan Minang untuk bisa memasak. Itu harus," imbuhnya.

Ayam Kampung Goreng dan Kepala Ikan Kakap Bumbu Gulai Kuning menjadi menu andalan RM Pagi Sore. Namun, hampir semua menu yang disajikan bercita rasa luar biasa.

Tengok saja rendang yang hitam pekat bagai tanah. Lembut daging rendang yang mudah putus saat digigit berpadu dengan aroma rempah khas rendang. Bumbunya saja enak. Makan nasi dengan bumbu rendang rasanya pun sudah mantap. Lalu ada Kacang Putih Bumbu Gulai. Bumbu gulai meresap ke kacang putih yang besar dan empuk. Santap pula sayur pakis gulai. Renyahnya pakis ditumis lagi-lagi dimasak dengan bumbu gulai khas Minang.

Jangan berani-berani melewatkan Ayam Kampung Goreng andalan RM Pagi Sore. Dagingnya empuk dan manis. Namun renyah saat digigit. Makan satu tidak akan puas. Apalagi ukurannya sangat kecil. Usut punya usut, ayam yang digunakan adalah ayam kampung yang berumur antara 35 sampai 40 hari.

"Kalau yang lewat dari itu, yang sudah gede, dagingnya keras," kata Rostina. Ia mengaku dalam sehari mampu menjual 300 sampai 400 ekor. Apalagi ayam kampung goreng RM Pagi Sore sudah sangat terkenal dan diincar oleh wisatawan yang datang ke Padang.

"Ayam ini bisa jadi oleh-oleh. Banyak yang pesan untuk dijadikan oleh-oleh. Awet kalau ditaruh dikulkas. Kalau mau dimakan tinggal digoreng di minyak penuh," jelasnya. Saking tenarnya kelezatan ayam ini, walikota sampai menteri pun pernah mencicipinya.

Iringan gitar akustik dan lantunan lagu-lagu Minang dari pengamen yang sering mangkal di RM Pagi Sore menemami makan malam para tamu. Dalam dekapan bangunan yang tampak bergaya klasik, tamu disuguhi berpiring-piring lauk dan nasi. Tamu tinggal pilih lauk mana yang ingin dimakannya.

Siapa sangka, bangunan tua itu pernah ambruk karena gempa Padang yang lalu. Terutama bagian dapurnya yang hancur. Saat itu, RM Pagi Sore sempat tutup hingga tiga bulan.

"Waktu gempa, barang pertama yang saya selamatkan papan "Pagi Sore" yang digantung di depan itu," tutur Rostina sambil tertawa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau