Di bawah polesan pelatih baru, Mano Menezes, muncul harapan permainan tim Brasil yang kembali ke khitahnya. Permainan sepak bola indah, atraktif, menyerang, dan dengan mudah mengatasi Venezuela yang lebih terkenal dengan olahraga bisbol itu. Namun, di lapangan tersaji permainan membosankan dan gagal menghangatkan musim dingin yang kini melanda Argentina, tuan rumah ajang sepak bola antarnegara Amerika Latin itu.
Menezes menurunkan formasi menyerang dalam skema 4-2-3-1, dengan ujung tombak Alexandre Pato, Neymar (sayap kiri), Robinho (sayap kanan), dan Ganso di belakang Pato. Empat penyerang itu diharapkan bisa menjadi kuartet magis yang menyerupai carre magique (persegi empat magis) Perancis dua dekade silam, yakni
Michel Platini, Alain Giresse, Luis Fernandez, dan Jean Tigana.
Pada menit-menit awal dan babak pertama, permainan Brasil seperti bakal menjanjikan. Tendangan Pato membentur mistar gawang, Neymar beberapa kali mengancam, Robinho kehilangan peluang mendapat penalti saat tendangannya ke mulut gawang ditahan bek Venezuela, Oswaldo Vizcarrondo, dengan tangannya.
”Ini hasil yang buruk,” kata Menezes seusai laga. ”Kejutan tidak lagi ada dalam sepak bola. Serangan kami dangkal, terutama pada babak kedua.”
Dia memasukkan Elano, Fred, dan Lucas pada babak kedua, tetapi tidak mengubah situasi.
”Kami tidak mampu bermain cukup cepat untuk menuntaskan serangan. Kami terlalu terbuka. Kami banyak mengirim bola ke kotak penalti tanpa punya pemain untuk diberi umpan. Dalam situasi itu, kami butuh seorang pemain yang mampu menyibak bek-bek tengah lawan.”
Di babak kedua, performa Brasil kian buruk dengan alur permainan yang tidak jelas. Secara keseluruhan, mereka lebih terlihat menggantungkan permainan pada kebintangan pemainnya dan jarang meracik semua potensi itu dalam satu tim.
Hasil seri yang didapat Brasil tersebut mengulang hasil serupa tim Argentina saat ditahan Bolivia 1-1 pada laga pembuka di stadion yang sama.
Dari empat laga pertama, turnamen ini termasuk paceklik gol. Hanya tiga gol yang tercipta dalam empat laga pertama atau rata-rata hanya ada satu gol setiap dua jam.
Selain karena buruknya permainan Brasil, jalannya laga juga tidak luput dari kerja keras Venezuela dengan penampilan cemerlang kiper Renny Vega. Venezuela pernah menundukkan Brasil 2-0 dalam uji coba di Boston, tiga tahun silam.
Namun, hasil seri di Copa Amerika itu terasa seperti kemenangan. ”Kami mulai bisa mengontrol Brasil,” kata Cesar Farias, Pelatih Venezuela, gembira.
Mendapat hasil imbang saat melawan Brasil, para pemain Venezuela memanfaatkan momen itu untuk menghibur dan menyampaikan pesan harapan segera sembuh bagi Presiden Hugo Chavez yang belum lama ini menjalani operasi kanker.
”Saya ingin mengirim Anda semua bantuan yang mungkin dikerjakan untuk melewati masa sulit,” kata Grenddy Perozo, mewakili pemain Venezuela.
Hasil imbang tanpa gol juga dihasilkan Ekuador lawan Paraguay pada laga Grup B lainnya. Kiper Ekuador, Marcelo Elizaga, beberapa kali menyelamatkan gawang dengan gemilang. Kiper kelahiran Argentina itu antara lain menggagalkan tandukan Roque Santa Cruz, tendangan Edgar Barreto, dan Nestor Ortigoza.
Dari empat laga pertama itu, striker Paraguay, Nelson Haedo Valdez, menyimpulkan, kini hampir tidak ada kesenjangan di antara tim-tim Amerika Latin sebagai dampak banyaknya pemain dari negara-negara itu yang mengenyam pengalaman di Eropa.
”Hari-hari ini di Amerika Selatan, tiada tim lebih rendah dari lainnya. Kita bisa lihat, Bolivia, Ekuador, dan Venezuela berada pada level yang sama dan ini sangat penting,” katanya.(AP/AFP/REUTERS/SAM)