London, Senin -
Pada pernyataannya, Senin (4/7), Standard and Poor’s (S&P) memperingatkan, dua proposal yang diajukan asosiasi perbankan Perancis tetap diperhitungkan gagal bayar karena menawarkan harga yang lebih rendah daripada janji yang sebelumnya dinyatakan dalam surat berharga itu. Perbankan Perancis sepakat mendukung pengeluaran obligasi baru untuk menggantikan obligasi lama yang jatuh tempo guna menghindari terjadinya gagal bayar.
Peringkat selective default versi S&P berarti penerbit surat utang tidak dapat memenuhi kewajibannya karena isu tertentu atau atas jenis surat utang tertentu, tetapi terus membayar kewajibannya dengan mengeluarkan surat utang lain.
Para analis mengatakan, posisi S&P itu dapat melemahkan upaya Eropa mengatasi krisis utang Yunani, apalagi jika pesaing S&P, Moody’s dan Fitch, juga mengambil keputusan serupa. Hal ini dapat memicu klaim asuransi dari obligasi Yunani yang menciptakan kekacauan baru dalam dunia finansial.
”Gagal bayar adalah hal yang dihindari politisi Eropa. Dalam bayangan saya, saat ini banyak panggilan telepon antara elite politik Eropa dan bos-bos di S&P,” ujar Louise Cooper, analis pada BGC Partners.
Kementerian Keuangan Perancis serta bank Perancis pemegang surat utang Yunani, BNP Paribas dan Credit Agricole, menolak menanggapi masalah ini.
Tidak hanya perbankan Perancis, perbankan Jerman dan Italia menyatakan turut dalam program penerbitan surat utang baru ini. Salah satu proposal menyebutkan, perbankan swasta akan dilibatkan dengan menginvestasikan kembali sekitar 70 persen dari nilai obligasi yang jatuh tempo.
Pemerintah Yunani akan mengeluarkan obligasi berjangka 30 tahun untuk menggantikan obligasi yang jatuh tempo itu. Tingkat suku bunganya dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi Yunani dan perdagangan obligasi baru itu akan dibatasi.
Opsi kedua adalah meminta institusi keuangan Perancis berinvestasi setidaknya 90 persen pada obligasi baru yang berjangka waktu lima tahun. Obligasi ini juga dibatasi perdagangannya dan memiliki formula tingkat suku bunga yang mirip dengan obligasi berjangka 30 tahun.
Politisi Eropa berkeras melibatkan sektor swasta dalam memberi dana talangan tahap kedua bagi Yunani. Perbankan Perancis merupakan salah satu pemegang obligasi negara Yunani terbesar. Jumlahnya mencapai 15 miliar euro. Demikian pula sektor swasta Jerman, yang memiliki piutang 16 miliar euro, sesuai data dari Bank of International Settlements.
”Reaksi dari lembaga pemeringkat ini sungguh di luar dugaan. Pendapat S&P ini tampaknya masih akan terus membuat keadaan panas,” ujar Joshua Raymond, analis pada City Index.
Namun, peringatan S&P tidak terlalu membuat harga saham jatuh. Para investor masih merasa lega bahwa Yunani akan terhindar dari potensi gagal bayar, Juli ini. Selama akhir pekan, para menteri keuangan dari zona euro sepakat untuk menggelontorkan dana talangan untuk Yunani. Namun, konfirmasi sepenuhnya baru dilakukan akhir musim panas ini.