Didit Putra Erlangga Rahardjo
Suara peluit melengking di sebuah situ buatan di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Rabu (22/6) lalu. Seorang pria berkulit gelap dan mengenakan kaus lengan panjang berwarna hitam tak henti meneriaki delapan orang yang sedang menaiki perahu karet di tengah situ.
”Menarik orang dari air jangan dengan membelakangi perahu.” Demikian Kristoforus, pelatih Search and Rescue (SAR) Satuan Brigade Mobil Polda Jabar berteriak.
Delapan orang di atas perahu itu hanya senyum-senyum. Barangkali mereka berpikir ini toh hanya simulasi, bukan keadaan sesungguhnya yang harus mempertaruhkan hidup dan mati. Mereka adalah sebagian dari 80 peserta pelatihan mitigasi banjir yang berasal dari 10 daerah di Kabupaten Bandung, yang kerap tergenang limpasan air dari Sungai Citarum, seperti Baleendah, Dayeuhkolot, dan Majalaya.
Menurut Komandan Tim SAR Satbrimob Polda Jabar Detasemen A Pelopor, Ipda Iyus Aliyusuf, pelatihan ini bertujuan memberikan pengetahuan dasar menggunakan perahu karet untuk penyelamatan di air (water rescue). Sehari sebelumnya, para peserta dilatih untuk mendirikan tenda pengungsian dan dapur umum.
Beberapa hal dasar ternyata sangat vital, seperti cara menarik orang ke atas perahu. Iyus menjelaskan, bila ditarik dengan membelakangi perahu, ada kemungkinan korban tercekik pelampung yang dikenakan dan malah berakibat fatal. Begitu pula cara mengendalikan perahu karet yang membutuhkan kerja sama dari para pendayung untuk bisa bermanuver di atas genangan air.
Menurut Iyus, pelatihan seperti ini diharapkan mampu meningkatkan peran warga, karena merekalah pihak pertama yang bisa diandalkan saat banjir menerjang. Dari hasil evaluasi mitigasi bencana selama ini, perahu karet memang sering datang paling dahulu begitu banjir terjadi. Akan tetapi, perahu karet itu nyaris tidak berfungsi karena operatornya belum tiba. Dan, bantuan perahu umumnya melimpah sewaktu terjadi banjir, tapi tidak dibarengi dengan tenaga operator perahunya.
Staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung pernah menuturkan hal seperti itu sewaktu banjir bandang di Majalaya di akhir bulan April 2011. Begitu mendapat kabar, dua unit mobil yang masing-masing mengusung perahu karet di atapnya langsung meluncur ke lokasi. Setibanya di lokasi, barulah disadari bahwa tidak ada operator yang bisa mengemudikan perahu.
Arifin, warga Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, yang menjadi peserta pelatihan itu mengatakan, masyarakat selama ini hanya bisa menanti evakuasi datang dari berbagai lembaga semacam Taruna Siaga Bencana atau Palang Merah Indonesia. Kini, dia memiliki sedikit rasa percaya diri untuk bisa memegang perahu karet bila keadaan mengharuskan.
Berbicara mengenai bencana banjir umumnya orang membahas aspek lingkungan. Kalau pun berbicara dampaknya, umumnya adalah penanganan korban, pengungsian, dapur umum, dan lain-lain. Perdebatan mengenai perlunya reboisasi kerap lebih gaduh dari pada mempersiapkan masyarakatnya untuk hidup berdampingan dengan banjir.
Warga yang rumahnya kebanjiran lebih banyak diposisikan sebagai korban yang pasif, menanti bantuan.
Padahal, sebelum berbicara dampak banjir dan langkah selanjutnya, yang tak kalah penting adalah bagaimana memberdayakan warga korban banjir agar bisa secara mandiri mengevakuasi sesama warga korban banjir. Sebab, untuk Citarum ini ketinggian banjir kerap mencapai 1-2,5 keter.
Ketua Perhimpunan Kelompok Kerja Daerah Aliran Sungai (PKK DAS) Citarum Deni Riswandani menuturkan, sebagian besar masyarakat mengandalkan ilmu yang didapatkan secara otodidak untuk mitigasi bencana, terutama banjir. Karena itu, dia mengharapkan agar pelatihan ini bisa membuat masyarakat lebih profesional dalam mengorganisasikan diri menghadapi luapan air sungai.
Setidaknya, dengan pelatihan ini ada banyak warga yang bisa mengoperasikan perahu karet untuk mengevakuasi warga jika banjir datang. Akan lebih elok lagi kalau pemerintah mengalokasikan dana pengadaan perahu karet yang senantiasa siaga di perkampungan warga....