SUSI IVVATY
Siapa yang sejak awal menjagokan petenis kelahiran Bilovec, Republik Ceko ini? Mungkin tak banyak. Ia kalah pamor dari Maria Sharapova (24), juara Wimbledon 2004 nan ayu dan menawan. Ia juga tak gencar dibicarakan seperti kakak-beradik Venus dan Serena Williams, atau peringkat pertama WTA asal Denmark, Caroline Wozniacki. Ia bagai berada di luar jangkauan radar.
Sekadar menyegarkan ingatan, perjalanan Kvitova di Wimbledon dimulai pada putaran pertama dengan mengalahkan Alexa Glatch dari Amerika Serikat. Ia mengatasi Anne Keothavong dari Inggris pada putaran berikutnya, sebelum menumbangkan petenis Italia, Roberta Vinci. Ia menekuk petenis Belgia, Yanina Wickmayer, dengan mudah pada putaran keempat.
Selanjutnya, Kvitova menumbangkan Tsvetana Pironkova dari Bulgaria pada perempat final dan mampu mengalahkan unggulan keempat asal Belarus, Victoria Azarenka, pada semifinal. Perjalanannya tak benar-benar mulus. Di perempat final dan semifinal, ia dipaksa bermain tiga set. Namun, pada final dia hanya membutuhkan dua set (6-3, 6-4) untuk menaklukkan Sharapova, yang justru belum pernah kehilangan satu set pun sebelum final.
Jika pada Wimbledon tahun ini langkah Kvitova lancar, tidak terganjal hingga laga pemuncak, ini bukan mukjizat. Jejak prestasinya terekam jelas. Pada Wimbledon 2010, dia mampu menaklukkan Wozniacki dan Kaia Kanepi, sebelum mencapai semifinal. Bukan sesuatu yang patut disesalkan ketika kemudian ia kandas di tangan Serena Williams, sang juara bertahan, pada semifinal.
Maka, Kvitova pun melangkah ke Wimbledon pada tahun ini dengan bekal kepercayaan diri yang cukup.
”Saya tahu, dia (Sharapova) berpengalaman dan pernah menang di sini (Wimbledon). Namun, saya juga memiliki pengalaman di sini tahun lalu. Saya bisa sedikit merasakan bagaimana harus berdiri di lapangan ini. Saya melakukannya dengan baik kali ini,” tutur Kvitova, yang melancarkan 36 pukulan as sepanjang turnamen Wimbledon 2011.
Tak banyak hal bisa digali dari Kvitova. Akan tetapi, komentar, pujian, dan analisa tentang dia justru datang dari orang-orang dekat di sekitarnya, termasuk sang pelatih, David Kotyza. Selama dua setengah tahun berlatih bersama Kotyza, Kvitova menunjukkan kemajuan luar biasa.
”Saya terperangah melihat bagaimana dia berpikir tentang tenis. Betapa dia pandai. Ia bicara mengenai keuntungan yang dia dapat atau sebaliknya, saat bermain. Apa yang seharusnya dia kembangkan. Otaknya, itulah keuntungan besar di laga ini,” papar Kotyza.
Bagi Kvitova, bermain tenis adalah bagaimana ia bisa terus fokus pada poin demi poin yang dia dapat dan perjuangkan. Ia tak pernah berpikir harus mencapai semifinal atau final. Maka, dia tak bermain dengan beban menggelayut.
Pengalaman hidup apa yang dia petik dari kemenangan di Wimbledon? ”Saya tidak menganggap diri saya sebagai seorang bintang. Saya berharap, saya bisa tetap hidup normal, seperti yang saya inginkan,” kata Kvitova, petenis yang tinggal di Fulnek, kota yang senyap di Republik Ceko.
Menjadi petenis yang sontak dielu-elukan pencinta tenis sejagat, bahkan lantas disandingkan dengan idolanya, Martina Navratilova, Kvitova tak ingin takabur.
”Saya ingin menjadi sosok orang yang sama. Saya berharap tak ada yang berubah dalam hidup saya,” ujar Kvitova dengan mimik malu-
Dia dengan tulus meminta maaf kepada para wartawan jikalau tak bisa melayani dengan baik dan tak menjawab pertanyaan mereka dengan lancar. ”Saya sangat lelah. Saya minta maaf jika ada sesuatu yang salah,” katanya tersenyum.
Begitulah. Kehidupan personal Kvitova berbeda dibandingkan dengan Sharapova misalnya, yang masyhur dan populer. Tak terdengar kabar penyambutan besar-besaran di negaranya atau kota kelahirannya, saat dia pulang dari Wimbledon.
Ia tak seperti juara Wimbledon 2011 putra, Novak Djokovic, yang dihebohkan pesta meriah nan ingar bingar setibanya di Beograd, Serbia.
Lahir dan tumbuh dewasa di Fulnek, kota berpenduduk 6.000 jiwa di Republik Ceko, Kvitova melakoni kehidupannya dengan datar. Ia tak pernah memperhitungkan dirinya menjadi bagian dari kaum elite profesional dalam jagat tenis.
”Saya hanya berlatih sepulang sekolah selama satu jam atau satu setengah jam, begitu setiap hari,” katanya.
Ketika Kvitova berusia 16 tahun, pelatihnya mendorong dia mulai menapaki tenis profesional. ”Saat mulai berlatih dengan saya, dia tidak sebagus ini. Tetapi dia belajar dengan cepat,” kata Kotyza.
Kvitova biasa menghabiskan waktu setiap malam bersama pelatihnya. ”Setiap malam kami makan buah nanas bersama,” ceritanya. Makan nanas juga menjadi ritual Kvitova menjelang turnamen yang dia ikuti.
Kompatriotnya yang 18 kali juara grand slam, Martina Navratilova, menyebut Kvitova sebagai anak manis. ”Dia tidak tampak garang. Ia amat manis,” katanya.
Kvitova niscaya menjadi juara grand slam putri pertama yang lahir tahun 1990-an. Bahkan Wozniacki, juga berumur 21 tahun, belum pernah memenangi satu grand slam pun meski menempati peringkat pertama dunia.
Menurut Navratilova, Kvitova bisa memimpin satu generasi baru di jagat tenis putri. ”Ke depan, kualitas petenis putri bisa mengimbangi yang putra,” katanya.
Kini memang belum muncul nama besar setelah Venus dan Serena Williams, Justine Henin, dan Kim Clijsters. Kvitova memberi harapan baru.
”Saya yakin, tenis putri akan lebih berkembang. Sejauh yang saya tahu, orang datang ke turnamen Wimbledon untuk menonton petenis putra. Namun, setelah tiba mereka lebih menikmati pertandingan petenis putri,” ujar Navratilova.
Apakah Kvitova yakin bisa mempertahankan gelarnya?
”Saya berharap menang di grand slam ini tidak hanya sekali. Kita lihat bagaimana nanti ke depan,” kata Kvitova. (REUTERS/AFP)