Pelabuhan

Tanah Ampo Belum Aman Disinggahi Kapal Pesiar

Kompas.com - 10/07/2011, 02:19 WIB

Karangasem, Kompas - Pelabuhan Tanah Ampo di Bali, sebagai pelabuhan khusus kapal pesiar di Indonesia, sudah mendapat izin operasional sementara dari Kementerian Perhubungan sejak 28 Juni 2011. Meski demikian, awak kapal pesiar menilai pelabuhan belum aman disinggahi dan masih butuh perbaikan.

Ketidaksiapan itu menyebabkan kapal pesiar Sun Princess dari Australia batal menjadi kapal pertama yang secara resmi berlabuh di pelabuhan itu, Sabtu (9/7). Kapal yang mengangkut 2.081 penumpang itu akhirnya singgah di Pelabuhan Benoa, Denpasar, dan berencana akan kembali ke Pelabuhan Tanah Ampo pada 17 Juli 2011.

Staff Captain Sun Princess, Kevin Grant, mengecek langsung kondisi di pelabuhan yang terletak di Desa Tanah Ampo, Kecamatan Manggis, Karangasem, itu pada Sabtu siang.

”Ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Kalau sampai tanggal 17 Juli belum siap lagi, kami batal datang,” katanya.

Menurut Kevin, ada lima rekomendasi perbaikan dermaga yang ia ajukan. Rekomendasi itu adalah penambahan ramp untuk menuju ke ponton atau dermaga apung, jaring pengaman pada tangga di ponton, penggantian tangga ponton yang lebih fleksibel, penambahan karet pengaman di dermaga, dan sertifikasi ponton.

Ketika dicoba, ponton yang masih belum selesai dibuat itu tampak tidak stabil. Tangga penghubung dari dermaga ke ponton terus bergoyang dan berdecit karena hanya memiliki satu engsel (naik dan turun). Tangga dikhawatirkan lepas jika ponton terhantam ombak dan mengarah ke samping.

Ponton diperlukan karena panjang dermaga di pelabuhan itu hanya 150 meter dan belum diperpanjang sehingga kapal pesiar dengan panjang di atas 200 meter tidak dapat bersandar. Kapal besar terpaksa membuang sauh di dekat dermaga dan penumpang kapal diangkut ke ponton dengan menggunakan sekoci.

Pengawas Pekerjaan Ponton Pelindo III Cabang Benoa, I Gusti Lanang Bagus Wirawibawa, mengatakan, perbaikan ponton dapat diselesaikan paling cepat dua hari.

”Sebelum tanggal 17 Juli nanti pasti sudah selesai dan dapat dipakai,” katanya.

Kevin menyayangkan ketidaksiapan ini karena Pelabuhan Tanah Ampo sebenarnya sangat potensial dan lebih menarik dibandingkan dengan pelabuhan lain. Begitu tiba di dermaga, penumpang langsung disuguhi pemandangan berupa bukit-bukit yang indah. ”Kami berharap pelabuhan ini dapat segera disempurnakan,” katanya.

Selain dermaga yang belum siap, terminal penumpang juga belum selesai dibangun. Suasana di dalam terminal berlantai dua itu masih kosong. Area luar terminal juga masih berdebu dan belum tertata. Besi pada tangga berjalan dan penutup lampu sudah mulai berkarat.

”Kami masih akan bangun kantor keimigrasian di terminal ini untuk memudahkan para wisatawan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem I Wayan Purna. Pembangunan gedung terminal itu merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Bali.

(DEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau