Yulia Sapthiani
Busana muslim adalah ceruk pasar yang menguntungkan bagi perancang busana dan pengusaha ritel di Indonesia. Momen menjelang Lebaran, seperti sekarang ini, menjadi momen penting untuk mengeluarkan koleksi baru, seperti halnya musim semi/panas dan gugur/dingin di pasar mode internasional.
Shafira, merek busana muslim yang sudah eksis sejak 1989, bahkan sudah memperkenalkan koleksi Lebaran 2011 sebelum puasa dimulai. Bertempat di Hotel The Dharmawangsa, Jakarta, Rabu (6/7), produk asal Bandung ini merilis koleksi Lebaran Bersama Shafira 2011 dengan konsep baru dalam tema besar ”Beyond Borders”.
Konsep yang lebih segar, dengan ciri utama warna-warna yang lebih cerah ini, ditampilkan seiring pembentukan tim manajemen baru yang banyak diisi tenaga muda, termasuk di divisi perancang. Dengan target mencapai pasar yang lebih luas dibandingkan perempuan berusia 35 tahun ke atas yang sudah menjadi pasar Shafira selama ini, empat perancang muda dan empat perancang senior dituntut membuat hal-hal baru.
Selain meraih pasar dengan usia yang lebih muda, perubahan di sektor internal ini ditujukan untuk memperkuat citra sebagai produk ritel, dari sebelumnya sebagai produk desainer.
”Perubahan warna menjadi yang utama, karena warna menjadi faktor pertama yang dilihat konsumen. Setelah itu, baru secara pelan-pelan kami mengubah gaya,” kata Sigit Endroyono, Manajer Umum Pengembangan Produk Shafira.
Warna-warna cerah, yang memperkaya ciri Shafira selama ini banyak menampilkan warna gelap, salah satunya terlihat pada perpaduan warna merah muda dengan abu-abu muda dan motif bunga-bunga pada salah satu segmen peragaan.
Dalam hal gaya, Shafira yang didirikan Fenny Mustafa ini, memperlihatkan desain yang bisa dipadupadankan dengan jenis busana lain, seperti tunik atau kemeja putih dari katun bermotif bordir yang dipadukan dengan jins. Perpaduan dalam koleksi ”sarimbit” ini ternyata pantas dipakai semua kalangan usia, dari anak kecil hingga kakek-nenek.
Dimulai sejak tahun lalu, Shafira mengeluarkan koleksi ”sarimbit” sebagai salah satu unggulan untuk Lebaran. Meski demikian, bukan berarti semua anggota keluarga harus memakai busana dengan warna dan bahan yang sama.
Dalam salah satu segmen peragaannya, merek yang sudah memiliki 22 gerai di berbagai kota di Indonesia ini memperlihatkan keharmonisan warna marun, coklat, dan ungu. Perbedaan warna ini disatukan oleh motif garis diagonal pada setiap busana.
Untuk remaja perempuan, blus-blus longgar yang menggantikan tunik atau gamis bisa dipakai dengan rompi atau jaket pendek di atas pinggang dengan legging. Dan, demi memenuhi kebutuhan pasar, Shafira menyediakan produk lain selain busana, seperti ikat pinggang, tas, dan sepatu.
Dari sisi motif, koleksi kali ini diwarnai tampilnya motif tenun Nusa Tenggara Timur dan batik Yogyakarta. Karena memproduksi produk secara massal, motif tenun didapat dari bahan katun melalui penggunaan mesin pabrik. Adapun batik Yogyakarta dengan motif sekar jagat diperoleh melalui teknik digital di atas bahan-bahan ringan, seperti sutra dan sifon.
Tak hanya produsen produk ritel dan perancang khusus busana muslim, Lebaran juga menjadi momen yang menarik perhatian bagi perancang yang tidak mengkhususkan diri mendesain busana muslim, salah satunya Raden Sirait. Jelang Lebaran, Raden mengeluarkan koleksi melalui label Middle East by Raden Sirait yang bertema Semburat Cinta Tanah Airku.
Koleksi ini menampilkan ciri khas rancangan Raden dengan gradasi warna pelangi serta hiasan dari payet, terutama di bagian dada dan leher.
Seperti halnya banyak desainer, Raden yang terkenal akan rancangan kebaya yang glamor menilai bahwa potensi bisnis busana muslim di Indonesia sangat besar. Kejelian pun dibutuhkan desainer untuk menciptakan tren terbaru di tengah persaingan yang ketat.
Potensi ini pula yang menjadikan acara Pameran Indonesia Fashion and Craft, 29 Juni-3 Juli lalu di Jakarta, mengangkat Potensi Indonesia sebagai Kiblat Busana Muslim Dunia sebagai tema. Dalam acara pameran produk mode dari usaha kecil menengah ini ditampilkan pula peragaan busana untuk pengunjung, termasuk dari perancang busana muslim, seperti Ida Royani yang menyuguhkan koleksi yang terinspirasi dari tenun NTT dan Dian Pelangi dengan ciri rancangan warna warni.
Akhir Juni lalu, peragaan busana muslim juga digelar di Bandung. Ibu kota Jawa Barat ini terpilih sebagai tempat Islamic Fashion Festival (IFF) yang digagas Malaysia sejak 2006 dan selalu melibatkan perancang Indonesia.
Acara yang digelar di Bandung tersebut menjadi yang ketiga pada tahun ini setelah sebelumnya di Singapura dan Kazakhstan dan akan diselenggarakan di London, Inggris, pada pertengahan Juli. Untuk mencapai target menduniakan busana muslim, IFF tak hanya digelar di kota-kota di Malaysia dan Indonesia, tetapi juga merambah negara Asia lain dan Eropa.