37 Tarian Diajukan Dapat Hak Paten

Kompas.com - 12/07/2011, 07:49 WIB

JAMBI, KOMPAS.com — Pemerintah Kabupaten Kerinci telah mengajukan 37 jenis tarian tradisional khas Kerinci ke Pihak Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual (Haki) Kementerian Hukum dan HAM untuk mendapatkan hak paten.

"Ada 37 tarian tradisional Kerinci yang telah kami ajukan ke Dirjen Haki untuk mendapatkan hak paten. Saat ini mungkin tengah diproses di Kementerian Hukum dan HAM," kata Sekretaris Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Amri Swarta di Kerinci, Senin.

Disbudparpora menyatakan, secara bertahap pihaknya akan mematenkan puluhan tari daerah yang merupakan aset penting dan sangat berharga yang dimiliki Kabupaten Kerinci tersebut sebagai wujud pelestarian dan proteksi terhadap ancaman klaim oleh pihak lain.

"Rencana mematenkan puluhan tari daerah itu sudah disampaikan oleh Bupati H Murasman dan disambut positif Menteri Hukum dan HAM saat berkunjung ke Jambi, beberapa waktu lalu," katanya.

Puluhan tari dan kesenian daerah yang akan dipatenkan itu, antara lain, tari Sike, Rangguk, Ngayun Luci, Niti Mahligai, Turun Mandi, Tauh, Asek, Iyo-iyo, Entak Kudo, Ngagouh Himau, Basambai (Reog Kerinci), Marcok (Debus Kerinci), dan tari Sirih Sekapur.

Dia menyebutkan, Kabupaten Kerinci, yang terletak di wilayah paling barat Provinsi Jambi, selain dikenal dengan kondisi alam yang indah, juga kaya dengan ragam budaya dan kesenian.

Panorama alam yang indah karena terletak di kaki Gunung Kerinci yang merupakan gunung aktif tertinggi di Sumatera, juga dikitari Bukit Barisan dan Taman Nasional Kerinci Seblat.

Potensi wisata alam yang dimiliki, seperti Danau Kerinci, air terjun Telun Berasap, hamparan kebun teh, pusat air panas, serta lembah dan ngarai, sangat apik berpadu dengan berbagai bentuk seni tradisi dan kebudayaan masyarakat.

Kabupaten Kerinci juga andalan daerah wisata bagi Provinsi Jambi karena ragam adat dan budayanya yang kaya dan perlu dilestarikan.

Lewat pesta danau atau Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK) yang digelar setiap tahun, puluhan tarian dan berbagai acara adat digelar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, baik dalam maupun luar negri.

"Kami harapkan dengan telah diajukan ke Haki nantinya kami tidak perlu waswas lagi  budaya kita berupa tarian tradisional yang khas itu akan dicaplok negara lain lagi. Sekarang kita tunggul hasilnya yang kami harapkan selama dua tahun ke depan ini semuanya sudah mendapatkan hak paten,” tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau