Explosion at Islamic School in Indonesia Kills 1

Kompas.com - 13/07/2011, 02:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — A man reportedly trying to show students how to make explosives was killed by a homemade bomb inside an Islamic boarding school in Indonesia, police said Tuesday.

School officials and students have prevented police from entering the building since Monday's explosion, local police spokesman Lt. Col. Sukarman Husen said.

But they discovered the body of the suspected bomb maker, a 30-year-old man identified only as Firdaus, on a bus Tuesday as it tried to leave the school compound, he said. Eleven people have been taken in for questioning, Husen said, adding that police also confiscated a number of arrows and machetes.

Husen said the bombing victim was a treasurer at the school, but media reports alleged he was a former bomb trainee in the Philippine region of Mindanao. According to a local television, he was killed in an unintentional explosion while training students about bomb-making. Police are still persuading the school officials to let them enter the compound, Husen said.

National Police Spokesman Maj. Gen. Anton Bachrul Alam said the explosion was suspected to be from a homemade bomb being prepared to attack the police.

"Therefore they don't allow police to enter the boarding school," Alam told reporters in the capital, Jakarta. He added that two platoons, including soldiers, were around the complex.

The school on Sumbawa Island in central Indonesia came to police attention late last month, when a 16-year-old student was arrested for allegedly stabbing to death an officer. Police believe he belonged to an Islamic militant group, and they said he told his interrogators that police deserved to die for hunting down jihadists.

Indonesia, the world's most populous Muslim nation, has been battling terrorists since 2002 when al-Qaida-linked militants attacked two nightclubs on Bali island, killing 202 people, mostly foreigners.

In recent months, security forces have become the main target of extremists in Indonesia. Militants say they want to punish soldiers and police for taking part in the so-called war against terrorism. Hundreds of Islamic militants have been arrested, tried and jailed.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau