Menjelang ramadhan

Harga Kebutuhan Pokok Terus Merangkak Naik

Kompas.com - 13/07/2011, 04:49 WIB

SURABAYA, KOMPAS - Kenaikan harga sejumlah barang kebutuhan pokok di beberapa daerah di Jawa Timur terus berlanjut. Hal ini bukan hanya dikeluhkan kalangan rumah tangga, tetapi juga kalangan pengusaha rumah makan, katering, dan pedagang sayur keliling.

Menurut pemantauan Kompas di Pasar Larangan, Kabupaten Sidoarjo, Selasa (12/7), harga beras medium yang akhir pekan lalu masih Rp 8.100 per kilogram kini menjadi Rp 9.200. Beras kelas bawah dari Rp 5.600 menjadi Rp 6.700 per kg. Adapun beras kualitas nomor satu yang dijual di supermarket naik sampai Rp 2.000 per kg.

Kenaikan mencolok juga terjadi pada telur. Jika akhir pekan lalu harga telur masih Rp 15.000, kini menjadi Rp 16.200 per kg. Harga daging sapi naik rata-rata Rp 5.000 per kg.

Kenaikan harga daging sapi pasti bukan karena permintaan melonjak. ”Dalam sepekan terakhir ini permintaan daging turun karena mungkin orangtua masih menggunakan uangnya untuk keperluan sekolah anaknya,” kata Sofiatun, pedagang daging sapi di Pasar Larangan.

Barang lain yang juga naik harganya adalah bawang putih dari Rp 9.000 per kg menjadi Rp 11.000, bawang merah dari Rp 17.000 jadi Rp 19.000 per kg.

Harga beras dan telur di Pamekasan, Jawa Timur, juga terus melambung. Dalam sepekan terakhir, kenaikan harga beras sekitar Rp 1.000 per kg, sedangkan telur Rp 2.500 per kg.

Menurut Ny Maizaini, pedagang di Pasar Gurem, Pamekasan, harga telur bahkan terus berubah, yang pekan lalu Rp 13.000 sekarang Rp 15.000 per kg. ”Kenaikan harga kebutuhan pokok diperkirakan berlangsung hingga awal Agustus,” katanya.

Bagi para pengusaha rumah makan, katering, ataupun pedagang sayur keliling, kenaikan harga ini terasa memberatkan. ”Modal saya, kan, pas-pasan. Kalau harga-harga naik, barang yang saya jual juga berkurang. Malah seperti udang saya tidak berani kulakan. Daging yang biasanya saya bawa dua kilo, kini hanya berani bawa satu kilo. Itu pun kalau ada pesanan,” ujar Herri, pedagang sayur yang biasa berjualan di perumahan Pondok Jati, Sidoarjo.

Pedagang warung makan di kawasan Stadion Delta, Sidoarjo, juga mengeluhkan kenaikan harga ini karena mengakibatkan keuntungannya tertekan. ”Walau harga melonjak, pengusaha warung tidak bisa langsung menaikkan harga karena pelanggan bisa lari,” ujar Hidayat, pedagang warung sego sambel.

Menjelang Ramadhan

Kenaikan harga ini meresahkan warga. Sebab, kenaikan sudah terjadi sebelum bulan Ramadhan, saat konsumsi barang tertentu biasanya naik.

Titik, pedagang eceran kelontong rumahan di kawasan Klojen, Malang, Jawa Timur, mengatakan, saat bulan puasa biasanya harga barang kebutuhan pokok bergerak naik karena belanja keluarga untuk konsumsi cenderung lebih besar dibandingkan dengan hari-hari biasa, terutama beras, gula, telur, dan daging.

”Telur biasanya sudah langsung diborong ibu-ibu untuk membuat kue dan jajanan saat Ramadhan,” kata Bu Kusno, pedagang eceran di Pasar Klojen.

Kenaikan harga biasanya juga akan berlanjut di hari-hari terakhir menjelang Lebaran, ketika banyak keluarga biasanya meningkatkan konsumsi. Sebab, tradisi bersilaturahim saat Lebaran biasanya diisi dengan jamuan makan dan minum.

(ETA/ANO/ODY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau