Warga Miskin Tetap Bayar, RS Didemo

Kompas.com - 14/07/2011, 22:21 WIB

BANGKALAN, KOMPAS.com — Tidak puas dengan pelayanan yang diberikan rumah sakit Syarifah Ambami Rato Ebu (Syamrabu), puluhan massa Dewan Kesehatan Rakyat Bangkalan (DKRB) Madura, Jawa Timur, Kamis (14/7/2011), menggelar aksi unjuk rasa.

Mereka kesal dengan pelayanan kesehatan karena ada diskriminasi serta adanya pungutan liar terhadap pasien yang menggunakan Surat Keterangan Miskin (SKM) dan Surat Pernyataan Miskin (SPM). Kedatangan mereka sempat mengagetkan para pegawai rumah sakit dan puluhan keluarga pasien yang sedang menunggui keluarganya.

Ardiansyah, koordinator aksi dalam orasinya, mengatakan, meskipun Pemerintah Kabupaten Bangkalan sudah memberikan pelayanan gratis kepada pasien yang kurang mampu, masih saja banyak ditemukan praktik penarikan uang secara ilegal. "Ini sudah tidak beres kalau yang miskin saja masih dimintai biaya, padahal mereka sudah ditanggung oleh pemerintah," ungkap Ardiansyah lantang.

Tidak hanya itu, persoalan lain yang ada di rumah sakit cukup kompleks, di antaranya fasilitas kamar mandi dan kebersihan rumah sakit. Selain itu, kenyamanan dan keamanan masih juga belum optimal, terutama pada pasien Jamkesmas, Jamkesda, dan SKM. "Kamar mandinya amis, bau, dan tidak terawat. Mestinya rumah sakit harus selalu terjaga kebersihannya karena akan berpengaruh kepada pasien," ujarnya.

Ardiansyah menambahkan, di rumah sakit tersebut juga banyaknya tenaga medis yang mengeluhkan hak jasa mereka dipungut sepihak tanpa persetujuan dari mereka sehingga mereka kurang profesional dalam melayani pasien. "Kami juga menilai rumah sakit menutup-nutupi kepada keluarga pasien agar mereka tidak tahu soal pelayanan kesehatan gratis. Sehingga, keluarga pasien menganggap setiap masuk rumah sakit harus membayar," ujarnya.

Sementara itu, Direktur RS Syamrabu, dr Yusro, mengatakan bahwa pihaknya mengakui adanya beberapa persoalan yang menjadi tuntutan massa sehingga pihaknya akan berusaha memenuhi tuntutan dari pendemo demi kemajuan rumah sakit ke depan.

"Kami meminta kepada masyarakat, khususnya yang ingin menggunakan Jamkesmas atau SPM, untuk disampaikan lebih awal sehingga staf kami bisa tahu lebih awal pula," ungkapnya.

Lebih lanjut, Yusro menjelaskan, jika memang terbukti ada oknum pihak rumah sakit yang telah melakukan pungutan di luar prosedur, tidak segan-segan pihaknya akan memberikan sanksi tegas. "Kami minta dukungan agar masyarakat turut melaporkan kepada saya jika menemukan pegawai yang indisipliner," kilahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau