Idha Saraswati
Tohpati akhirnya menemukan tempat yang pas untuk mengalunkan ”Bedoyo Ketawang”. Bersama petikan gitarnya, cahaya keemasan yang menyirami perbukitan hijau di belakang panggung itu perlahan surut digantikan malam.
Nuansa jazz berbalut musik etnik mewarnai komposisi yang ia tampilkan pada perhelatan musik Jazz Gunung 2011. Keheningan alam yang mengitari panggung di pelataran Java Banana Bromo, Lodge, Cafe, and Gallery, yang berada di lereng Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, itu menjiwai lagu-lagunya.
Pada lagu semacam ”Bedoyo Ketawang”, suasana alam terasa pas dengan suasana lagunya yang hening dan agung. Sementara pada lagu seperti ”Let the Birds Sing” terdengar nada meloncat-loncat sehingga menciptakan suasana riang di alam terbuka.
”Lagu-lagu ini berasal dari album yang sama dan kebetulan memang sudah di-setting untuk suasana hutan. Malah baru di sini bisa nemu venue yang pas,” ujar Tohpati yang bermain bersama Tohpati Ethnomission seusai tampil.
Panggung menjadi kata kunci Tohpati dalam memilih lagu. Menurut dia, semesta yang mengitari panggung mesti ditanggapi dengan aransemen yang sesuai. ”Kalau yang di sini sama aja dengan yang di Jakarta, ya, gimana,” katanya.
Musisi lain yang tampil dalam Jazz Gunung juga mencoba merespons suasana dengan cara masing-masing. Sebelum penampilan Tohpati, kelompok Kramat Madura menampilkan musik perkusi dengan nuansa etnik yang kuat, cocok dengan semangat Jazz Gunung yang mengusung jazz etnik.
Beranjak malam, udara dingin pegunungan kian menusuk kulit. Namun, penonton bergeming. Berbekal jaket tebal, penutup kepala, kaus kaki, kaus tangan, bahkan sarung, mereka setia duduk di bangku penonton. Sejumlah penonton lain tampak berdiri di depan panggung beralaskan rumput hijau itu.
Djaduk Ferianto bersama kelompok Kua Etnika mulai meramaikan panggung mengiringi aksi Trie Utami. Mereka membawakan sejumlah lagu, seperti ”Kembang Boreh”, yang membuat pinggul penonton bergoyang.
Sebelum aksi menggoyang pinggul itu, Kua Etnika juga berkolaborasi dengan seniman harpa Maya Hasan yang tampil anggun dalam balutan gaun panjang tebal berwarna hitam. Mengawali lantunan irama ”Savana” yang pelan, bola lampu di sekitar panggung dimatikan untuk mendekatkan penonton dengan suasana alam Bromo. Sejenak saja. ”Savana” dipersembahkan bagi warga Bromo. Lagu ini terinspirasi dari suasana padang sabana di belakang Gunung Batok.
Semakin malam udara makin dingin, tetapi panggung kian menghangat. Puncaknya adalah ketika Glenn Fredly dan teman-teman tampil. Menyanyikan lagu-lagu hitnya, seperti ”Cukup Sudah”, ia sukses menggoyang penonton. Bagi Glenn, musik tak memiliki batasan ruang dan waktu. Oleh karena itu, ia tidak perlu pusing merancang lagu yang kira-kira sesuai dengan suasana panggung.
Kalaupun ada persiapan, itu lebih pada stamina karena ia harus menyanyi dan memetik dawai gitar dalam suhu hingga 5 derajat celsius. Dan, ketika udara kian dingin, penonton pun agaknya lebih menikmati lagu-lagu yang membuat tubuh mereka bergoyang.
Secara konsep, tak banyak yang berubah dalam penyelenggaraan Jazz Gunung pada tahun yang ketiga ini. Sigit Pramono selaku salah seorang penggagas Jazz Gunung menuturkan, sejak awal acara ini mengangkat jazz etnik di ruang terbuka yang berada di gunung.
Jazz Gunung juga menjadi ajang perayaan budaya sehingga bukan hanya musisi jazz yang dirangkul. Penampilan kelompok kesenian tradisional jathilan, misalnya, membuka acara ini. Jazz Gunung juga dibarengi dengan pembukaan pameran patung karya pematung Dolorosa Sinaga bertema ”Nature, Art, and Symphony” di lokasi yang sama.
Namun, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, Jazz Gunung kali ini menjadi istimewa karena ikut menandai kebangkitan Bromo pascaerupsi. Selama periode erupsi, November 2010-Maret 2011, perekonomian warga yang bergantung pada pariwisata dan pertanian terganggu. Kehadiran Jazz Gunung mampu membantu mengangkat perekonomian warga.
Setidaknya itu terlihat dari kamar-kamar hotel yang penuh dipesan tamu pada saat acara berlangsung. Sebagian dari tamu hotel itu adalah penonton Jazz Gunung. ”Dengan event ini, orang jadi datang ke Bromo, kan. Mereka tidak takut lagi karena sebenarnya Bromo ini sudah aman asalkan wisatawan mau mengikuti instruksi dari petugas,” tutur Sigit.
Bagi warga yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata, Jazz Gunung sudah dikenal sebagai acara tahunan yang mendatangkan wisatawan. Sugeng yang menyewakan kuda di kaldera Bromo, misalnya, bisa mendapat empat penyewa kuda pada akhir pekan itu. Padahal, pascaerupsi, jumlah penyewa kudanya rata-rata hanya dua orang per hari. Sugeng mengaku senang ada acara semacam Jazz Gunung meskipun ia sendiri tidak mungkin ikut menonton acara yang bertarif mulai Rp 100.000 per orang itu. Namun, ia sempat mendengarkan juga.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang