Pertemuan menlu asean

Zona Bebas Nuklir ASEAN Masuki Babak Baru

Kompas.com - 18/07/2011, 02:18 WIB

Nusa Dua, Kompas - Proses pembahasan penerimaan Perjanjian Zona Bebas Nuklir di Kawasan Asia Tenggara (SEANWFZ Treaty) oleh sejumlah negara pemilik senjata nuklir memasuki babak baru dalam pertemuan antarmenteri luar negeri ASEAN ke-44 di Bali.

Perwakilan Tetap RI untuk ASEAN Ngurah Swajaya, Minggu (17/7), seusai pertemuan Komite Eksekutif SEANWFZ, mengatakan, ada kemajuan signifikan yang memungkinkan dibukanya kembali proses negosiasi yang mandek 10 tahun terakhir.

”Sejumlah momentum berpengaruh positif, seperti pidato (Presiden AS) Barack Obama di Praha beberapa waktu lalu, yang menyatakan ingin menghapus senjata nuklir,” ujar Ngurah.

Ada juga perkembangan di tubuh ASEAN, yang menetapkan terciptanya komunitas ASEAN pada 2015. Komunitas bersama ini ditandai oleh konektivitas pada pilar politik dan hukum, ekonomi, serta sosial dan budaya.

Setidaknya, ada empat isu penyebab kemandekan yang menyebabkan proses negosiasi terhenti. Keempat isu itu adalah kedaulatan, hak transit, kawasan penerapan, dan jaminan tidak menggunakan senjata nuklir ke negara non-pemilik senjata itu.

Terdapat lima negara pemilik senjata nuklir yang menjadi mitra ASEAN, yaitu AS, Inggris, Perancis, Rusia, dan China. Menurut Ngurah, AS berinisiatif mengoordinasi tiga negara lain di luar China untuk menyusun dan menyampaikan posisi mereka terkait empat isu yang tertunda dalam bentuk draf tertulis. Draf itu akan dibahas dalam pertemuan ini.

”Posisi keempat negara pemilik senjata nuklir itu sudah dikirim dalam pertemuan tingkat pejabat senior (SOM) ASEAN di Surabaya, Jawa Timur, awal Juni. Besok (Senin) tinggal menunggu persetujuan tingkat menlu ASEAN. Kalau di level itu mereka bilang oke, proses negosiasi bisa dibuka kembali,” ujar Ngurah.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Djauhari Oratmangun menyatakan, kemungkinan besar konsultasi antarkedua pihak akan digelar pada awal Agustus.

”Kami sepakat konsultasi itu sudah digelar awal Agustus sebelum Sidang Umum Ke-66 Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, apakah konsultasi langsung itu dilakukan secara formal atau tidak, itu diputuskan di tingkat antarmenlu,” ujar Djauhari.

Dua lokasi disebut-sebut sebagai tempat konsultasi itu digelar, yaitu New York atau Geneva. Diharapkan kelima negara, termasuk China, hadir dalam pertemuan itu.

Laut China Selatan

Terkait sengketa perbatasan di Laut China Selatan, Djauhari menyampaikan, ada kemungkinan akan disepakati pertemuan tingkat pejabat senior dengan China terkait pedoman tentang deklarasi kode etik (DOC) berperilaku di perairan itu.

ASEAN menganggap salah satu penyebab utama kekisruhan di kawasan perairan itu karena tidak adanya kode etik yang disepakati bersama. ”Diharapkan SOM ASEAN-China terkait DOC Laut China Selatan itu bisa segera digelar. Namun, patut diingat, kerja sama ASEAN jauh lebih penting ketimbang isu Laut China Selatan,” ujar Djauhari.

Sengketa Laut China Selatan itu melibatkan China, Taiwan, dan empat anggota ASEAN, yakni Brunei, Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Dua negara terakhir bersikap sangat keras terhadap China yang mengklaim seluruh perairan tersebut sebagai wilayahnya. (DWA)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau