Wushu

Jatim dan Sumut Kuasai Pelatnas

Kompas.com - 18/07/2011, 03:37 WIB

MAKASSAR, KOMPAS - Jawa Timur dan Sumatera Utara mendominasi pemusatan latihan nasional SEA Games untuk cabang olahraga wushu. Atlet wushu kedua daerah itu menguasai Kejuaraan Nasional Wushu 2011 di Celebes Convention Centre, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (17/7).

Kontingen Jawa Timur berjaya dalam nomor sanshou (tanding) dengan merebut lima medali emas dari total sembilan kelas. Penampilan gemilang Yusak Christiawan di final kelas 70 kilogram menghentikan atlet pelatnas SEA Games, Handi Prayitno (Kalimantan Timur).

Berstatus bukan unggulan justru membuat Yusak tampil lepas. Dia hanya perlu dua ronde untuk mengungguli Handi lewat teknik bantingan dan dorongan yang nyaris sempurna. Di ronde pertama, Yusak memancing Handi untuk bertarung jarak dekat. Dia memetik keuntungan dengan beberapa kali membanting Handi.

Pada ronde selanjutnya, Handi bertarung lebih agresif untuk merebut poin. Namun, Yusak mengantisipasi keagresifan Handi dengan menampilkan teknik mendorong lawan keluar arena. Handi pun kalah setelah tersungkur dua kali keluar arena dalam satu ronde.

Alhasil, Yusak berhak promosi ke pelatnas SEA Games menggantikan Handi. Dia juga menyusul sukses empat atlet Jawa Timur yang merebut medali emas.

Keempat atlet Jawa Timur yang bertahan di pelatnas adalah Yosep Fu (kelas 48 kilogram), Gunawan (52 kilogram), Mukhlis (60 kilogram), dan Agus Suprayitno (70 kilogram).

Namun, Lita Sulasgiyanti menjadi satu-satunya atlet Jawa Timur yang gagal masuk pelatnas SEA Games. Lita takluk di hadapan Moria Manalu di final kelas 56 kilogram putri.

Pelatih tim sanshou Jawa Timur merangkap pelatih pelatnas, Lambertus, mengatakan, sukses mendominasi nomor sanshou tidak lepas dari pembinaan intensif selepas PON 2008 di Kalimantan Timur.

”Kami fokus mencetak atlet andal di nomor sanshou karena Sumatera Utara dominan di nomor taolu (seni),” ujarnya.

Kebijakan itu membuat Jawa Timur kini menjadi barometer nomor sanshou di Tanah Air. Lambertus optimistis target dua emas pada SEA Games XXVI/2011 dapat terlampaui. Apalagi, sembilan atlet pelatnas sanshou berlatih selama tiga bulan di China mulai awal Agustus.

Di tengah persiapan di negeri ”Tirai Bambu” itu, Yusak dan kawan-kawan mematangkan diri di Kejuaraan Dunia Wushu 2011 di Turki.

”Jadwal kejuaraan dunia sekitar September. Ajang tersebut menjadi pemanasan terakhir sebelum berlaga di SEA Games, November,” ujar Lambertus.

Nomor ”taolu”

Di nomor taolu, atlet asal Sumatera Utara unjuk gigi dengan merebut empat medali emas dari total 10 nomor. Empat emas tersebut persembahan Aldy Luk- man, Dessy Indri Astuti, Lindswell, dan Johannes. Aldy dan Johannes merebut emas lewat nomor changquan serta nangquan putra. Dessy dan Lindswell mendominasi nomor taijijian dan taijiquan putri.

Sebanyak 10 dari 15 atlet pelatnas taolu berasal dari Sumatera Utara. Menurut pelatih tim taolu Sumut, Sandri Liong, pihaknya juga berencana memusatkan latihan di China menjelang berlaga di SEA Games. Langkah tersebut ditempuh untuk mengamankan target tiga emas dalam SEA Games mendatang.

Ketua Pengurus Besar Wushu Indonesia Supandi Kusuma mengatakan, kejurnas di Makassar juga menjadi kualifikasi PON XVIII/2012 Riau. Untuk nomor taolu, seluruh atlet yang menempati peringkat enam besar di setiap kelas lolos ke PON. Di nomor sanshou, peringkat delapan besar di setiap kelas otomatis lolos ke PON. (RIZ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau