JAKARTA, KOMPAS.com — Tim Yamaha U-13 Indonesia memang hanya menjadi runner-up pada Yamaha ASEAN Cup U-13 Thailand, 15-17 Juli lalu. Namun, melihat kualitas performa, kekuatan mental dan fisik, mereka sama sekali tak berada di bawah siapa pun, bahkan layak menjadi juara.
Turnamen diikuti enam tim dari lima negara, yaitu Indonesia, India, Malaysia, Thailand A, Thailand B, dan Vietnam. Mereka dibagi dalam dua grup dan Indonesia berada di Grup B bersama Thailand B dan Malaysia.
Langkah Indonesia di ajang tersebut diawali dengan melawan Thailand B, Jumat (15/7/2011). Pertandingan berakhir imbang 0-0, tetapi Indonesia menguasai pertandingan sejak awal menciptakan banyak peluang dan nyaris tak mendapatkan ancaman berarti.
Pelatih Indonesia Rahmat Namung menilai, penyelesaian akhir menjadi satu-satunya masalah Indonesia saat itu. Namun, menurut Rahmat, itu wajar mengingat itu adalah laga pertama dan melawan tuan rumah pula.
"Kemampuan anak-anak belum muncul semua. Namun, Anda tadi melihat, kami tidak kalah dari segi fisik. Soal teknik masih perlu diasah. Namun, anak-anak ini punya semangat. Mereka masih adaptasi dengan lapangan, lawan yang adalah tuan rumah, semuanya. Insya Allah setelah ini normal," ujar Rahmat.
Muliadi Mustari dan kawan-kawan kemudian bermain lebih baik pada pertandingan grup kedua, yaitu melawan Malaysia. Dengan permainan umpan pendek, mereka mendominasi pertandingan. Mereka juga tak mudah kehilangan bola. Mereka mampu menang dengan skor meyakinkan 4-0.
Pelatih Malaysia Rada Khrisnan mengakui permainan Indonesia lebih baik dan layak menang. Selain itu, ia juga menilai Aldo Prasetyo dan kawan-kawan berpeluang besar mempertahankan gelar juara.
Indonesia lantas melaju ke semifinal dengan Vietnam sebagai lawannya. Duel yang digelar pada Sabtu (16/7/2011) boleh dikatakan menjadi ujian terbesar Indonesia dalam gelaran Yamaha ASEAN Cup kelima ini.
Bagaimana tidak, anak-anak memainkan sebagian besar babak pertama dalam guyuran hujan deras. Dengan gaya permainan umpan pendek, alur aliran bola tidak lancar. Toh, mereka mampu menutup turun minum dengan keunggulan 2-0.
Ketika tiba waktu babak kedua digelar, muncul masalah lain. Ofisial pertandingan dan perwakilan Vietnam menilai lapangan tak layak digunakan dan ingin babak kedua dimainkan pada Minggu (17/7/2011) pukul 09.00. Padahal, final akan digelar pada hari yang sama, pukul 16.20.
"Vietnam sempat menolak melanjutkan pertandingan. Namun, mereka akhirnya mau melanjutkan pertandingan. Namun, ofisial pertandingan dan panitia lokal yang ngotot minta pertandingan ditunda sampai besok," ujar Rahmat.
Perdebatan soal kelanjutan babak kedua memakan waktu lebih dari setengah jam. Namun, anak-anak tampak tenang dan santai. Sementara menunggu keputusan, mereka berlatih di pinggir lapangan sambil tertawa-tawa. "Kami ke sini mau bermain. Mau sekarang atau besok, insya Allah, kami yang masuk final," ujar Aldo Prasetyo tak lama setelah ofisial memutuskan duel ditunda sampai pukul 08.00, keesokan harinya.
Doa, harapan, dan usaha anak-anak terkabul. Cuaca pada hari Minggu cerah dan mereka bisa menambah dua gol dan melaju ke final, di mana Thailand A sudah menunggu.
Pada babak puncak, Indonesia mampu unggul lebih dulu melalui tendangan bebas Aldo Prasetyo, sekitar 25 meter dari gawang lawan. Namun, setelah bek Muhammad Alfian diganjar kartu merah, Indonesia kebobolan dua kali, yang salah satunya dari titik penalti, dan akhirnya kalah 1-2.
Selain mengakhiri turnamen sebagai runner-up, tim Yamaha U-13 Indonesia juga menyumbang dua pemain masuk tim Best XI Players. Dua pemain itu adalah bek tengah Indonesia dan juga kapten tim, Muliadi Mustari Sumule dan gelandang Andi Abdul Azis Zulfikar. Muliadi Mustari Sumule dan Andi Abdul Azis Zulfikar adalah dua dari enam pemain asal Sulawesi Selatan yang dibawa ke Thailand membela tim Yamaha U-13 Indonesia.
Terlepas dari hasil, performa anak-anak dinilai memuaskan oleh Ketua PSSI Djohar Arifin. Ia pun berjanji akan memasukkan kompetisi usia muda, seperti Yamaha U-13, dan jenjang-jenjang yunior berikutnya ke dalam agenda resmi PSSI. Dengan begitu, pembinaan akan tak terputus.
"Pola permainan yang bisa dikembangkan di Indonesia adalah bola kaki ke kaki seperti yang diterapkan anak-anak ini. Kalau main bola atas atau fisik, kami tidak kuat," ujar Djohar.
"PSSI membuka pintu kepada usia muda bentuk wadah efektif efisien. Kami harapkan kompetisi seperti Yamaha U-13 ini menjadi kalender tetap PSSI. Dari sinilah nanti kami ambil pemain untuk tahapan selanjutnya," tambahnya.
Sementara itu, Manajer Humas Yamaha Indonesia Indra Dwi Sunda menegaskan, pihaknya berkomitmen kuat menggelar Yamaha U-13 tahun depan.
"Kami belum tahu detail rencana PSSI memasukkan Yamaha U-13 ini ke dalam agenda resmi mereka. Yang jelas, Kami melihat ada peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun dan sudah mengagendakan kompetisi Yamaha U-13 untuk tahun depan. Kalau sekarang Yamaha ASEAN Cup U-13 digelar di Thailand, tahun depan kemungkinan di Malaysia," ujarnya.
Bukti melimpahnya talenta muda Indonesia dan peningkatan kualitas kompetisi Yamaha U-13 ini adalah diambilnya peserta kompetisi oleh klub-klub daerah.
"Sebagian besar lulusan kompetisi ini langsung diambil oleh tim-tim daerah mereka untuk menjadi calon pesepak bola profesional. Banyak pula yang sudah masuk ke jenjang profesional melalui berbagai aktivitas. Tercatat sekitar 100 lebih lulusan Yamaha U-13 bergabung dengan tim yunior yang ambil bagian pada kejuaraan di Swedia (Gothia Cup), Milan Junior Camp (program AC Milan), dan satu pemain yang berlatih di Uruguay (bersama tim nasional Indonesia U-14)," kata Indra.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang