LAMONGAN, KOMPAS.com — Harga beras di Lamongan, Bojonegoro, dan Gresik terus merangkak. Kegagalan panen akibat banjir atau wereng menurunkan jumlah produksi.
Sejumlah kalangan menyatakan perlunya data konkret dan akurat jumlah persediaan pangan riil. Jika memang tidak mencukupi, tidak perlu dikatakan surplus hanya untuk menenangkan publik karena hal itu justru bisa memicu rawan pangan jika kondisi di lapangan persediaan pangan menipis.
Bupati Bojonegoro, Suyoto, bahkan sudah memerintahkan kepada Badan Ketahanan Pangan setempat dan Dinas Pertanian untuk mendata persediaan pangan per kecamatan. Sebagian besar petani telah mengalami tiga kali gagal panen setelah dihitung setara dengan 152.000 ton beras. Tahun ini jumlah areal yang gagal panen di Bojonegoro mencapai 13.500 hektar dengan nilai kerugian sekitar Rp 38 miliar.
"Maka, saya meminta meminta badan ketahanan pangan, dinas pertanian untuk mengecek di seluruh kecamatan persediaan pangan yang dimiliki. Datanya harus akurat untuk mengukur persediaan pangan di Bojonegoro cukup sampai kapan. Ini penting agar tidak terjadi rawan pangan," katanya.
Pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Gresik, Asikin Hariyanto, menyatakan pemerintah harus mengambil kebijakan jelas dan tegas karena harga beras sudah di atas harga pembelian pemerintah Rp 5.600 per kg. Menurut dia, kenaikan harga bisa mencapai 2-10 persen per hari. Operasi pasar saja tidak cukup karena menurut fakta di lapangan, banyak petani yang gagal panen.
"Kalau dikatakan surplus pangan, kenyataannya persediaannya tidak ada, bisa timbul rawan pangan. Kali ini saya mendukung impor meski itu tidak populis. Kondisi di lapangan memang persediaan beras kosong. Bahkan di sejumlah penggilingan tidak ada aktivitas karena tidak ada pasokan gabah. Penyebabnya ya gagal panen," tuturnya.
Di Gresik, harga beras kualitas super mencapai angka Rp 8.000, beras medium Rp 7.700, beras kualitas biasa Rp 6.700 per kg. Harga gabah kering giling Rp 4.500 per kg. Di Lamongan saat ini harga kualitas super Rp 8.400 per kilogram dari sebelumnya Rp 8.200 per kg.
Beras kualitas sedang Rp 7.600 per kg, sedangkan beras standar Rp 6.900-Rp 7.000 per kg. Harga gabah juga di atas harga pembelian pemerintah, harga kering sawah mencapai Rp 4.070, sedangkan harga gabah siap giling mencapai Rp 4.600 per kg.
Warga Lamongan, Angga, menyebutkan, meskipun harga gabah tinggi, tetapi hasil panen di Lamongan jeblok karena terserang wereng. Ada petani yang hanya panen empat zak per hektar, bahkan ada yang tidak panen. "Yang agak bagus masih bisa mencapai 49 zak (sekitar 2,5 ton). Padahal, bila bagus, satu hektar bisa menghasilkan 6 ton," tuturnya.
Bupati Lamongan, Fadeli, meminta jajarannya mulai dari Dinas Pertanian, unit pelaksana teknis, hingga kelompok tani mengamankan produksi padi di Lamongan, terkait dengan masih adanya serangan hama wereng di Lamongan.
Sejak awal musim tanam pertama Oktober 2010 lalu hingga Juni 2011, tercatat sudah seluas 19.247 hektar lahan tanaman padi yang terserang wereng.
"Jika produksi tidak maksimal, dapat mengganggu stabilitas ketersediaan pangan secara regional maupun nasional. Apalagi, Lamongan merupakan lumbung pangan dan produsen sekaligus penyumbang beras terbesar Jawa Timur," tuturnya.
Dinas Pertanian dan Kehutanan Lamongan mengenalkan pengendalian hama wereng menggunakan agen hayati Beauveria Bassiana sebagai pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Agen hayati dikembangkan oleh Klinik Konsultasi Agribisnis (KKA), UPT Dinas Pertanian dan Kehutanan Kecamatan Karanggeneng.
Agen hayati itu disarankan digunakan pada pagi atau sore hari karena bisa rentan dan lemah serta kemungkinan akan mati bila terkena sinar matahari langsung sebelum beradaptasi secara baik dengan inangnya, tergantung dari varietas dan jenisnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Lamongan Mustakim Arief menyebutkan, sasaran luas tanam padi di Lamongan tahun 2011 seluas 135.290 hektar sudah terealisasi 124.742 hektar. Sasaran tanam pada Juli, Agustus, dan September diperkirakan akan mencapai 11.872 hektar.
Sampai akhir September, realisasi tanam sebesar 136.614 hektar dengan sasaran panen 2011 ditetapkan 131.000 hektar, sudah terealisasi 97.000 hektar. "Sasaran produksi padi tahun 2011 sebanyak 837.000 ton gabah kering giling (GKG). Produksi rata-rata turun dari 6,2 ton menjadi 5,1 ton per hektar," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang