Andi Tantang Nazar ke Indonesia

Kompas.com - 21/07/2011, 15:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat Andi Mallarangeng kembali menantang tersangka kasus dugaan suap proyek pembangunan wisma atlet SEA Games 2011, M Nazaruddin, untuk kembali ke Indonesia.

Hal ini disampaikan Andi terkait tudingan Nazaruddin yang ditujukan kepada sejumlah politisi partai pemenang Pemilu 2009 ini kepada Metro TV pada Selasa (19/7/2011).

"Paling baik kembali ke Indonesia, melaporkan semuanya ke KPK dengan bukti-bukti. Itu jauh lebih bermanfaat untuk kemudian diusut tuntas," kata Andi kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis.

Melalui Metro TV, Nazaruddin kembali melemparkan sejumlah tudingan. Nazaruddin, misalnya, mengatakan, kepergiannya ke Singapura ketika kasus dugaan suap wisma atlet meledak adalah atas perintah Anas Urbaningrum.

Dia juga menuding Anas menggelontorkan uang sebesar 20 juta dollar AS agar dapat memenangi pertarungan perebutan kursi Ketua Umum Partai Demokrat pada Kongres II Partai Demokrat di Jawa Barat.

Nazar mengatakan, dirinya akan kembali ke Indonesia jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil menemukan adanya aliran uang kasus wisma atlet ke rekeningnya. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat ini mengatakan tak bersedia kembali ke Indonesia karena meragukan independensi KPK.

Menurutnya, Anas telah memiliki kesepakatan dengan pimpinan KPK, Chandra M Hamzah, dan juga Deputi Penindakan KPK Ade Rahardja untuk melokalisasi kasus ini hanya sampai Nazar.

Anas, tuding Nazar, menjanjikan akan mengamankan posisi pimpinan untuk Chandra dan Ade. Atas hal ini, baik Chandra, Ade, maupun Juru Bicara KPK Johan Budi SP telah membantahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau