Yunani Dibiarkan "Gagal"

Kompas.com - 22/07/2011, 02:25 WIB

Brussels, Kamis - Bank Sentral Eropa tampaknya sudah rela dengan usulan untuk membiarkan Yunani mengalami gagal bayar (default). Ini dianggap salah satu solusi untuk mengatasi krisis utang di Uni Eropa walau langkah itu dikhawatirkan akan melahirkan efek domino.

Pilihan tersebut dibahas dalam pertemuan di Brussels, Belgia, oleh para pemimpin Uni Eropa dan sejumlah bankir.

Langkah tersebut dianggap sebagai yang paling tepat ketimbang memberikan utang baru kepada Yunani sehingga hanya menambah utang lama yang sudah menggunung mencapai 350 miliar euro atau setara dengan 499 miliar dollar AS.

Namun, opsi default bagi Yunani dipoles dengan istilah restrukturisasi utang Yunani dengan mengubah utang lama ke dalam bentuk utang baru dengan pembayaran berjangka waktu lebih lama. Artinya, hanya ada semacam perubahan nama utang tanpa harus menambah dana talangan baru.

Istilahnya, Uni Eropa rela membiarkan Yunani menghadapi sendiri masalahnya sehingga tidak terus-menerus jadi beban yang justru terus mengirimkan sinyal buruk ke negara-negara lain di Uni Eropa. Masalahnya, krisis Yunani telah mengarah pada kekhawatiran soal utang Spanyol dan Italia.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, ”Saya berharap bahwa kami akan dapat memutuskan sebuah program baru untuk Yunani. Dengan program ini, kami ingin membersihkan masalah dari akarnya.”

Menteri Keuangan Belanda Jan Kees de Jager mengatakan, opsi gagal bayar dalam jangka pendek atau gagal bayar selektif untuk Yunani, yang sebelumnya ditentang Bank Sentral Eropa, kini dimungkinkan.

Mengomentari hal itu, Presiden Yunani Karolos Papoulias di Athena, Kamis (21/7), menyatakan, ”Saya harap Eropa bisa memahami bahwa Eropa dalam bahaya. Karena itu, saya berharap Eropa tidak menghentikan peran historisnya dengan menolong pihak terlemah di Eropa.”

Menurut sumber, Yunani akan menerima lagi dana talangan sebanyak 115 miliar euro di samping dana talangan sebesar 110 miliar euro yang sudah diterima tahun lalu. Uni Eropa tak setuju dengan opsi ini.

Tak ada kemajuan

Sementara itu, para politisi Amerika Serikat juga tetap berupaya menghindari gagal bayar utang. Presiden Barack Obama bertemu secara terpisah dengan rekannya dari Partai Demokrat dan Republik guna menemukan kompromi. Namun, negosiasi yang terjadi pada Rabu tak menghasilkan terobosan apa pun.

Padahal, tenggat 2 Agustus sudah dekat. AS memerlukan pagu utang baru di atas 14,3 triliun dollar AS agar anggaran defisit Pemerintah AS bisa ditutupi dan beban utang jangka pendek bisa dibayar meski dengan menambah utang baru.

Juru bicara Jay Carney menyatakan, Obama kemungkinan akan menerima kesepakatan dalam jangka pendek untuk menaikkan pagu utang. Sebelumnya, Obama menolak kenaikan pagu utang berjangka pendek dengan tujuan agar ada waktu lebih lama bagi Gedung Putih untuk mengatasi persoalan utang. Masalah utang di AS dan Eropa menghantui perdagangan saham di Asia.

(AP/AFP/Reuters/joe)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau