Permodalan

KUR Bukan Kredit Usaha Rumit

Kompas.com - 02/08/2011, 05:07 WIB

Oleh Rini Kustiasih

Utang kepada bandar adalah modal utama bagi mayoritas nelayan dan petani di pantai utara Jawa. Akses ke bank yang minim membuat mereka tidak berdaya dalam jeratan tengkulak. Ini diperparah dengan kredit usaha rakyat yang sulit diakses. Berdalih mencegah kredit macet, petani dan nelayan pun tergusur. 

Nurdin (48), petani di Desa Cangkuang, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, Kamis (28/7), hanya bisa mengelus dada. Bapak lima anak itu kebingungan menambah modal untuk memulai musim tanam kali ini. Uang simpanannya, Rp 5 juta, sudah dikeluarkan untuk menyewa 0,5 hektar sawah dari juragan sawah di kampungnya. ”Nanti kalau kurang duitnya untuk beli pupuk, terpaksa dijual ijon,” katanya.

Dengan sistem ijon, gabah petani dihargai amat murah. Jika harga gabah kering giling di tingkat petani mencapai Rp 4.000 per kilogram, saat panen pengijon minta petani menjual gabahnya hanya Rp 3.000 per kilogram. Kadang harga gabah bisa lebih murah lagi.

Kondisi serupa dialami nelayan di Kelurahan Kesenden, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon. Sebagian besar dari 200 nelayan di kelurahan itu terjebak utang kepada bandar ikan. Mereka berutang minimal Rp 100.000 per hari untuk membeli solar. Dalam sehari, setiap nelayan memerlukan 20 liter solar. ”Kalau enggak dapat ikan, ya besok ngutang lagi,” kata Toni Tondo (34), nelayan Kesenden.

Toni sebenarnya ingin meminjam modal dari bank. Namun, bapak tiga anak itu tidak paham cara mengajukan kredit ke bank. ”Saya, sih, dengar ada pinjaman dari bank, apa itu namanya koperasi KUR atau apa ya? Saya juga enggak jelas. Katanya, sih, bisa pakai jaminan surat kepemilikan perahu,” ungkapnya.

Kredit usaha rakyat (KUR) yang simpang siur juga membuat Sarwo (59), petani di Pabuaran, Cirebon, mundur teratur. Ia ragu mengajukan KUR karena syarat sukar dipenuhi. Ia dimintai jaminan sertifikat tanah. ”Sertifikat tanah jelas tidak punya. Selama ini saya menyewa sawah seluas 300 bata (0,4 hektar),” ujarnya.

Akses permodalan dari bank yang rumit dan sulit juga membuat sebagian petani di Indramayu menderita karena rentenir. Bunaim (35), petani dari Desa Majakerta, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, kehilangan pekarangan rumahnya seluas 0,25 hektar karena harus membayar bunga rentenir Rp 3 juta. ”Selama utang belum dilunasi, pekarangan belum bisa saya peroleh kembali,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Karya Bakti Cirebon Asmuni (60) menilai, agunan sertifikat tanah mustahil dipenuhi petani. Sebagian besar petani Cirebon tidak memiliki lahan sendiri. Kepemilikan sawah di Cirebon umumnya kurang dari 0,3 hektar.

Slogan belaka

Permintaan agunan pada program KUR jelas tidak sesuai dengan janji pemerintah yang muncul berkali-kali di media massa. Pemerintah menjanjikan KUR mikro yang besarannya di bawah Rp 20 juta bebas agunan. Padahal, kondisi di lapangan jauh panggang dari api.

”Beberapa anggota saya sulit dapat KUR karena harus ada rekomendasi dari pihak lain yang dipercayai bank. Jika begini caranya, KUR bukan kredit usaha rakyat, tetapi kredit usaha rumit,” ujar Tasrip Abubakar, Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Cirebon.

Analis Muda Bank Indonesia (BI) Cirebon Andriany Suryanita mengaku, janji bebas agunan itu baru sebatas harapan dari pemerintah. Pada kenyataannya, prosedur KUR diserahkan kepada bank pelaksana. Di setiap daerah ada enam bank nasional dan satu bank daerah yang mengucurkan KUR, yakni Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara, Bank Bukopin, Bank Mandiri Syariah, serta Bank Jabar-Banten (khusus di Jawa Barat dan Banten).

BI pun seolah tidak mampu mencegah bank menyalahi ”janji”, sebab dalam nota kesepahaman (MOU) antara perbankan dan enam kementerian pada 6 September 2010 tidak disebutkan secara eksplisit bahwa KUR mikro di bawah Rp 20 juta bebas agunan. Prinsip kehati-hatian membuat bank meminta agunan. Perbankan masih setengah hati melepaskan KUR bebas agunan lantaran khawatir terjadi kredit macet seperti pada program kredit usaha tani (KUT) pada masa Orde Baru.

Assistant Vice President BRI Cirebon Fidri Arnaldy mengatakan, untuk KUR mikro, pihaknya jarang meminta agunan. Untuk memastikan kelayakan, BRI selalu menerjunkan tim guna mengecek kebenaran informasi dan prospek usaha debitor.

Data BI menyebutkan, hingga Juni 2011, realisasi KUR mikro di Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan Rp 495 miliar dengan 52.000 debitor. Namun, petani dan nelayan hanya 8.840 orang.

Di luar itu, masyarakat seolah tertipu janji KUR tanpa agunan. MOU antara perbankan dan pemerintah pun tidak jelas. Sebagai sebuah kebijakan, KUR amat populis karena membawa semangat permodalan mudah untuk rakyat. Namun, dalam praktik, kebijakan ini tidak lebih dari pemanis bibir, pelengkap citra.

Soal trauma bank atas kredit macet KUT pada masa lalu, Asmuni berpendapat, itu bukan sepenuhnya kesalahan petani. Dari pengalamannya di lapangan, penunggak KUT justru sebagian besar bukan petani. ”Penunggak KUT umumnya pengusaha besar yang mengatasnamakan petani untuk meminta kredit. Kalau petani asli, mereka pasti berusaha keras membayar kredit. Sebab, petani kecil takut berutang. Utang sekecil apa pun pasti dilunasi. Jangankan mengemplang, petani kecil berutang saja takut,” katanya.

Pemerintah harus jadi penjamin petani dan nelayan agar nilai tawar mereka naik di hadapan bank. ”Artinya, pemerintah langsung mengawasi serta membina petani dan nelayan agar usahanya berhasil dan bisa mengembalikan kredit,” kata pengajar Ekonomi IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, Agus Al Wafier.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau