Kebakaran

Ketika Kebakaran Mampir ke Rumah Fitri

Kompas.com - 03/08/2011, 04:08 WIB

Seperti arisan, kebakaran kembali terjadi di permukiman padat penduduk di Jakarta. Kali ini, 52 warga Jalan Kalibaru Timur 6, Gang 14 RT 02 RW 09, Kelurahan Utan Panjang, Kemayoran, kehilangan tempat bernaung, Selasa (2/8).

Fitri (32), salah satu korban, hanya bisa terdiam memandangi puing-puing hitam di hadapannya. Rumah yang ditempatinya puluhan tahun rata dengan tanah akibat amukan api.

”Saat kejadian, saya masih mencuci baju di rumah di depan gang,” tutur Fitri, buruh cuci, memulai kisahnya. Ketika api berkobar, hanya ada dua anaknya yang tinggal di rumah. Si bungsu Alia (7) yang pertama kali melihat api berkobar dari sisi kiri rumah mereka.

Alia segera berteriak untuk membangunkan Sawal Ramadhan (10), kakaknya, yang sedang terlelap. Mereka segera berusaha menyelamatkan diri.

”Pintu depan saya kunci sehingga anak-anak harus lari lewat pintu belakang. Rupanya, di belakang api sudah bergulung- gulung. Untung mereka masih sempat menyelamatkan diri. Sawal juga masih bisa berlari meskipun dia punya sakit jantung,” papar Fitri sambil mengurut dada.

Dari dua anaknya inilah, Fitri mendapatkan kabar bahwa rumahnya terbakar. Secepat kilat Fitri menghampiri rumahnya. Api yang sudah membesar membakar sebagian rumah. Fitri nekat masuk dan hanya sempat menyambar plastik berisi akta lahir keempat anaknya serta kartu keluarga miskin (gakin). ”Selebihnya sudah hangus,” ucap Fitri.

Pengalaman Fitri ini juga dirasakan puluhan penghuni rumah kos milik Zaenal yang ikut terbakar. Mereka masih sibuk memindahkan barang yang tersisa setelah rumah berkamar 16 itu terbakar.

Mereka mengumpulkan belasan tabung gas berukuran tiga kilogram ke dalam karung, memunguti panci-panci dan wajan.

Dua di antara mereka adalah Taukhid (44) dan Pepen (39). Taukhid baru empat bulan mengontrak di salah satu kamar di bawah, sementara Pepen baru dua bulan tinggal di situ. Sehari-hari, Pepen, ayah dua anak itu, bekerja sebagai sopir mobil boks pengangkut air mineral isi ulang, sementara istrinya bekerja sebagai pekerja rumah tangga.

Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta mencatat, tahun 2010 terjadi 708 kebakaran. Triwulan pertama 2011, terjadi 174 kebakaran. Kerugian akibat kebakaran tidak main-main. Tahun 2010, kerugian material mencapai lebih dari Rp 207 miliar. Belum lagi 21 jiwa meninggal akibat kebakaran.

Di RT 02 RW 09 Kelurahan Utan Panjang, sekali kebakaran saja menimbulkan kerugian material yang cukup besar. ”Tidak ada korban jiwa akibat kebakaran ini, tapi kerugian material mencapai lebih Rp 100 juta,” ujar Lurah Utan Panjang Wahyu Prabowo.

Lokasi ini bukan ”langganan” kebakaran. Tapi seperti halnya sebuah arisan, kebakaran bisa terjadi di mana saja secara bergiliran, bahkan di lokasi yang jarang terjadi sekalipun.

Apalagi, sebagian lokasi permukiman di Jakarta berada di dalam gang-gang sempit dengan batas rumah yang berimpitan satu dengan lain. Akibatnya, api cepat membesar dan menyambar rumah di sekitarnya. Belum lagi, lokasi kebakaran di dalam gang yang menyulitkan pemadam kebakaran bekerja.

Korban kebakaran sementara ditampung di dua hunian sementara, yakni di mushala dan kantor sebuah partai.

Dapur umum juga disediakan Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat.

Wahyu mengatakan, sedikitnya ada 200 kilogram beras dan 50 dus mi instan yang sudah diturunkan untuk korban kebakaran di lokasi ini.

”Saya belum bisa memastikan berapa lama logistik ini akan mencukupi kebutuhan korban kebakaran,” tutur Wahyu.

Pengeluaran pemerintah untuk mengantisipasi kebakaran bisa ditekan jika kesiapan kebakaran ditingkatkan.

Persoalan hidran, misalnya, masih tetap menghantui pemadaman kebakaran. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta Paimin Napitupulu mengatakan, hidran belum bisa dipakai sebagai penyalur air utama saat kebakaran. ”Debit air kecil. Mana bisa untuk memadamkan kebakaran,” ujarnya.

Harapan agar ada pemisahan pasokan air untuk hidran dan air minum hingga kini belum terpenuhi. (ART/WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau