Persiapan lebaran

Sepi Pekerja, Proyek Pantura Bisa Molor

Kompas.com - 04/08/2011, 20:35 WIB

BATANG, KOMPAS.com — Perbaikan jalan dan jembatan di jalur pantai utara Jawa Tengah, di ruas Kendal-Batang sepanjang 40 kilometer, dikhawatirkan molor.

Pengamatan pada hari Kamis (4/8/2011), tidak terlihat aktivitas perbaikan jalan di dua titik dan perbaikan jembatan di dua lokasi. 

Di sekitar proyek perbaikan jembatan Kali Jenes, hanya terdapat satu alat berat teronggok di mulut jembatan dari arah Jakarta. Tidak ada pekerja satu pun yang melakukan aktivitas pekerjaan perbaikan.

"Sudah dua hari ini, perbaikan jembatan ditinggal pekerja. Tidak tahu alasannya," ujar Martono, warga yang tinggal di Desa Lebo, dekat lokasi perbaikan jembatan Kali Jenes.

Perbaikan jembatan hanya satu sisi sebelah selatan sepanjang 300 meter sudah berlangsung sebulan terakhir. Akibat adanya pekerjaan tersebut, jalan dua jalur di lokasi itu akhirnya ditutup dan kendaraan bermotor dari arah Semarang terpaksa dialihkan ke jalur sebelah utara.

 

Upaya peninggian jalan nasional juga terlihat di ruas Brangsong, Kabupaten Kendal, atau sekitar 15 kilometer arah timur Kota Kendal. Sepenggal jalan sepanjang satu kilometer sisi selatan kini sedang dalam peningkat an. Ruas jalan itu kini diuruk pasir dan batu, ditinggikan 30-50 sentimeter.

 

Adanya proyek peninggian jalan hanya satu jalur menyebabkan kendaraan bermotor yang lewat di jalur ini tersendat. Kendaraan dari arah Semarang yang masuk ke Kendal terpaksa antre. Laju kendaraan rata-rata 3-5 kilometer per jam.

 

Jalan yang diperbaiki bernama Jalan Soekarno-Hatta berada di Desa Kebondalem merupakan jalan masuk ke Kota Kendal bagi pengendara kendaraan bermotor yang tidak lewat jalan lingkar Kaliwungu, Kendal.

Pekerjaan yang terkesan lambat karena tidak mengerahkan banyak tenaga kerja juga dikeluhkan Darmanto, warga Kota Semarang, yang setiap hari mengirim bahan kain ke Pekalongan.

Menurut Darmanto, akibat adanya perbaikan jalan dan jembatan, jarak tempuh Batang-Semarang kini makin lama. Normalnya, Batang-Semarang bisa ditempuh 2-2,5 jam, kini molor lama tempuh bertambah jadi 3-3,5 jam lebih.

"Kalau pekerjaan jembatan dikerjakan pekerja yang tidak disiplin dan seenaknya, dikhawatirkan jalan pantura tidak siap dilalui arus mudik dengan lancar. Bisa saja, pekerjaan perbaikan dihentikan, tapi kondisi jalan tidak mulus," ujar Darmanto.

 

Kepala Dinas Bina Marga Jawa Tengah Danang Atmodjo menepis kekhawatiran soal molornya pekerjaan perbaikan jalan dan jembatan di pantura Jateng. Meski ada pekerjaan yang tidak maksimal, pastinya jalan pantura akan siap karena H-10 seluruh kegiatan perbaikan jalan dan jembatan sudah selesai.

 

Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Jawa Tengah Komisaris Besar Dwi Sigit menyatakan, jalur pantura tetap berpotensi macet karena masih adanya sejumlah pasar tumpah.

"Untuk membantu kelancaran arus mudik, kondisi jalan pantura juga jalan lain di wilayah Jateng sebenarnya sudah siap. Hanya saja, perbaikan jalan dan jembatan sudah selesai H-10," ujar Dwi Sigit saat berada di markas Polres Batang.

 

Untuk membantu mengamankan jalur jalan saat arus mudik, pihaknya menyiapkan 248 pos simpatik. Jumlah petugas polisi yang diterjunkan mengamankan lalu lintas 12.300 orang, termasuk personel polisi yang siaga di lokasi-lokasi pasar tumpah dan ruas jalan rawan kemacetan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau