Marzuki Alie Kontroversial sejak 2009

Kompas.com - 05/08/2011, 00:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) menyatakan, bukan baru beberapa kali Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie menuai kontroversi lewat sikapnya. Lima mencatat, terdapat 20 bentuk kontroversi yang dilakukan Marzuki sejak 2009 hingga 2011.

"Marzuki bukan baru kali ini mengeluarkan statement ataupun kontroversi. Ini sudah ada sejak tahun 2009. Sebenarnya, kalau mau dihitung, bukan 20, tapi lebih. (Sebanyak) 20 ini yang menurut kami penting dan menuai kontroversi karena ini dilakukan oleh pejabat publik," ujar Direktur Eksekutif Lima Ray Rangkuti dalam diskusi "Bila Pak Ketua Selalu Alpa atau Salah Pikir" di Institut Hijau Indonesia, Jakarta, Kamis (4/8/2011).

Inilah 20 kontroversi yang dilakukan Marzuki versi Lima:

1. Tiga minggu menjadi Ketua DPR, Marzuki menyatakan dukungan atas kenaikan gaji menteri.

2. Marzuki Alie membatalkan sepihak rapat kerja Komisi IX dengan Menteri Kesehatan dan rapat kerja Komisi VIII dengan Menteri Agama.

3. Marzuki tak hadir dalam rapat paripurna DPR yang seharusnya mengagendakan pembacaan usul hak angket kasus Bank Century. Akibatnya, usul tak dibahas di rapat. Baru setelah itu, usul tersebut disetujui setelah rapat empat pemimpin DPR.

4. Marzuki secara sepihak menghadiri pertemuan tertutup Presiden Yudhoyono dan sejumlah petinggi lembaga negara. Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso menyatakan, pihak DPR merasa tidak terwakili dalam pertemuan itu.

5. Marzuki secara sepihak menghentikan rapat paripurna DPR yang membahas rekomendasi Pansus Angket Kasus Bank Century.

6. Marzuki beberapa kali menerima telepon saat memimpin rapat lobi yang membahas rekomendasi Pansus Angket Kasus Bank Century.

7. Marzuki menilai remisi untuk besan SBY, Aulia Pohan, telah memenuhi aturan dan Aulia, katanya, tak layak disebut koruptor.

8. Marzuki menyatakan, jangan melihat studi banding anggota Dewan ke luar negeri sebagai bentuk pemborosan.

9. Marzuki bersama 4 pemimpin DPR mengundang calon kepala Polri Jenderal Timur Pradopo ke DPR. Padahal, Komisi III belum melakukan uji kelayakan terhadap Timur. Sejumlah anggota Komisi III meneken mosi yang menyatakan tak percaya kepada Marzuki.

10. Yang menyakiti hati rakyat juga, waktu Marzuki mengomentari bencana tsunami di Mentawai, yang kita sudah sama-sama mengetahui bahwa ia mengatakan tsunami itu konsekuensi bagi orang yang tinggal di pulau.

11. Pada urutan ini, Lima mencatat surat imbauan Pansus Century untuk menonaktifkan Boediono selaku Wapres dan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan tidak dibahas dalam rapat pimpinan karena Marzuki beralasan tak menerima surat tersebut.

12. Ia menutup sidang paripurna DPR tentang penetapan rekomendasi Pansus Century secara sepihak tanpa kesepakatan terlebih dahulu. Ini mengakibatkan rapat berakhir ricuh.

13. Dalam rapat pimpinan DPR tentang rekomendasi Pansus Century DPR, Marzuki terlihat tidak netral dengan terus memuji-muji Partai Demokrat yang mendukung poin A rekomendasi itu. Padahal, ia yang memimpin sidang itu seharusnya bersikap netral.

14. Mengeluarkan pernyataan bahwa hasil paripurna tentang penetapan rekomendasi poin C hasil Pansus tidak mengikat. Ini bentuk dari pelecehan terhadap hasil keputusan DPR.

15. Menggagas pelibatan Mahkamah Konstitusi dalam proses pembahasan undang-undang di DPR.

16. Kontroversi rencana pembangunan gedung baru DPR. Marzuki menyebut pimpinan DPR sebelumnya telah menunjuk konsultan perencana pembangunan gedung dan telah mengeluarkan biaya Rp 4,2 miliar. Ini dibantah oleh anggota DPR 2004-2009 dari PAN, Alvin Lie.

17. Masih dalam isu yang sama tentang gedung baru, Marzuki menyebutkan, dirinya hanya menjalankan keputusan DPR periode kepemimpinan Agung Laksono. Ini dibantah oleh Agung yang menyebut rencana belum sampai pada tahap penentuan grand design.

18. Dalam pernyataan Marzuki tentang anggaran pembangunan gedung baru DPR, dia menyebut rencana anggaran Rp 36 miliar telah terpakai Rp 10,5 miliar dan sisanya Rp 25,5 miliar. Hal ini dibantah oleh Sekjen DPR Nining Indra Saleh yang menyebut dana yang telah terpakai sejak tahun 2008 adalah Rp 14.787.085.000.

19. Pernyataan Marzuki "Bagi rakyat biasa dari hari ke hari yang penting perutnya berisi. Itu sudah jalan, makan, kerja, ada rumah, ada pendidikan. Itu selesai buat rakyat. Rakyat jangan diajak ngurusin yang begini. Urusan begini orang-orang pintar yang diajak bicara, ajak kampus bicara, kita diskusikan." Pernyataan ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap amanah rakyat.

20. Pernyataan Marzuki yang menyebut TKW yang menjadi PRT membuat citra buruk bagi negara.

"Ini belum termasuk yang dua terakhir tentang koruptor dan KPK. Apa lagi yang mau dipertahankan dari Marzuki sebagai Ketua DPR jika setiap perbuatannya mengundang kontroversi. Marzuki lebih baik mundur secara baik-baik," kata Jerry.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau