China-Jepang Tegang

Kompas.com - 05/08/2011, 02:58 WIB

beijing, RABU - Hubungan China dan Jepang kembali tegang setelah Jepang menyebut China makin ”agresif” dalam laporan tahunan sektor pertahanannya. Pihak China langsung berang dan menyebut laporan itu tak berdasar, tak bertanggung jawab, dan punya motif tersembunyi.

Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, dan media resmi Pemerintah China beramai-ramai menyatakan protes terhadap isi buku putih pertahanan Jepang tersebut sejak Rabu (3/8) malam.

Geng Yansheng, Juru Bicara Kementerian Pertahanan China, mengatakan, Jepang sengaja melebih-lebihkan ancaman China dalam laporan tersebut. Geng menuduh Jepang melakukan itu dengan motif tersembunyi.

Kantor berita Xinhua menuduh isi laporan Jepang itu ”tak berdasar” dan menunjukkan perilaku Jepang yang suka menuduh sembarangan, dan selalu mengungkit-ungkit berbagai hal yang bukan urusannya, seperti pertumbuhan pengeluaran sektor pertahanan dan modernisasi militer China.

Buku putih pertahanan Jepang, yang dipublikasikan Selasa (2/8), itu menyebut China tak transparan dalam kebijakan pertahanan dan pergerakan militernya, dan menuduh negara itu makin asertif saat menghadapi perbedaan kepentingan dengan negara-negara tetangganya.

Kementerian Luar Negeri China menyebut buku putih pertahanan Jepang itu berisi komentar-komentar tak bertanggung jawab. Beijing juga menyarankan agar Jepang lebih fokus pada peluang ekonomi yang ditawarkan China daripada khawatir dengan perkembangan militernya.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Ma Zaoxhu, menegaskan kembali bahwa pembangunan militer China sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengancam negara lain, tetapi semata-mata untuk melindungi integritas teritorial, kedaulatan, dan keamanannya sendiri.

”Pembangunan China telah membawa berbagai kesempatan besar bagi semua negara di dunia, termasuk Jepang, dan China tidak pernah dan tidak akan menjadi ancaman bagi negara mana pun. Kami harap Jepang akan menjadikan sejarah sebagai panduan, dan sungguh-sungguh mempertimbangkan kembali kebijakan pertahanannya, dan berbuat lebih demi meningkatkan rasa saling percaya dengan tetangga-tetangganya,” kata Ma.

Rumit

Ketegangan baru ini menunjukkan kerumitan hubungan China-Jepang, negara kekuatan ekonomi nomor dua dan tiga di dunia. Di satu sisi, mereka saling bergantung satu sama lain dalam bidang ekonomi.

Namun, di sisi lain, kedua negara memendam rivalitas masa lampau dan memiliki sejarah pahit pada era pendudukan Jepang atas China, yang berlangsung sejak 1931 hingga 1945.

Tahun lalu, China memutuskan kontak diplomatik tingkat tinggi dengan Jepang setelah Jepang menahan nakhoda kapal nelayan China. Kapal China itu dituduh menabrak kapal patroli Jepang di dekat kepulauan yang disengketakan dua negara, yakni Kepulauan Senkaku atau Diaoyu dalam versi China.

China tahun ini mengagetkan dunia dengan uji coba pesawat tempur stealth, pembangunan kapal induk pertama, dan pengembangan rudal pembunuh kapal induk. Sebaliknya, Jepang menambah armada kapal perang yang dilengkapi sistem pertahanan antirudal Aegis dan menambah kapal selam dari 16 menjadi 22 unit. (AFP/AP/Reuters/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau