Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, dan media resmi Pemerintah China beramai-ramai menyatakan protes terhadap isi buku putih pertahanan Jepang tersebut sejak Rabu (3/8) malam.
Geng Yansheng, Juru Bicara Kementerian Pertahanan China, mengatakan, Jepang sengaja melebih-lebihkan ancaman China dalam laporan tersebut. Geng menuduh Jepang melakukan itu dengan motif tersembunyi.
Kantor berita Xinhua menuduh isi laporan Jepang itu ”tak berdasar” dan menunjukkan perilaku Jepang yang suka menuduh sembarangan, dan selalu mengungkit-ungkit berbagai hal yang bukan urusannya, seperti pertumbuhan pengeluaran sektor pertahanan dan modernisasi militer China.
Buku putih pertahanan Jepang, yang dipublikasikan Selasa (2/8), itu menyebut China tak transparan dalam kebijakan pertahanan dan pergerakan militernya, dan menuduh negara itu makin asertif saat menghadapi perbedaan kepentingan dengan negara-negara tetangganya.
Kementerian Luar Negeri China menyebut buku putih pertahanan Jepang itu berisi komentar-komentar tak bertanggung jawab. Beijing juga menyarankan agar Jepang lebih fokus pada peluang ekonomi yang ditawarkan China daripada khawatir dengan perkembangan militernya.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Ma Zaoxhu, menegaskan kembali bahwa pembangunan militer China sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengancam negara lain, tetapi semata-mata untuk melindungi integritas teritorial, kedaulatan, dan keamanannya sendiri.
”Pembangunan China telah membawa berbagai kesempatan besar bagi semua negara di dunia, termasuk Jepang, dan China tidak pernah dan tidak akan menjadi ancaman bagi negara mana pun. Kami harap Jepang akan menjadikan sejarah sebagai panduan, dan sungguh-sungguh mempertimbangkan kembali kebijakan pertahanannya, dan berbuat lebih demi meningkatkan rasa saling percaya dengan tetangga-tetangganya,” kata Ma.
Ketegangan baru ini menunjukkan kerumitan hubungan China-Jepang, negara kekuatan ekonomi nomor dua dan tiga di dunia. Di satu sisi, mereka saling bergantung satu sama lain dalam bidang ekonomi.
Namun, di sisi lain, kedua negara memendam rivalitas masa lampau dan memiliki sejarah pahit pada era pendudukan Jepang atas China, yang berlangsung sejak 1931 hingga 1945.
Tahun lalu, China memutuskan kontak diplomatik tingkat tinggi dengan Jepang setelah Jepang menahan nakhoda kapal nelayan China. Kapal China itu dituduh menabrak kapal patroli Jepang di dekat kepulauan yang disengketakan dua negara, yakni Kepulauan Senkaku atau Diaoyu dalam versi China.
China tahun ini mengagetkan dunia dengan uji coba pesawat tempur stealth, pembangunan kapal induk pertama, dan pengembangan rudal pembunuh kapal induk. Sebaliknya, Jepang menambah armada kapal perang yang dilengkapi sistem pertahanan antirudal Aegis dan menambah kapal selam dari 16 menjadi 22 unit.