Inilah Resolusi Rakyat Papua di Inggris

Kompas.com - 05/08/2011, 13:21 WIB

LONDON,  KOMPAS.com — Setelah gagal dengan referendum Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), rakyat Papua mencari cara lain: Konferensi Para Pengacara untuk Papua di Oxford, Inggris. Dalam konferensi yang terselenggara pada 2 Agustus lalu itu, tiga resolusi disepakati. Salah satunya adalah rakyat Papua berhak menentukan nasib sendiri sesuai dengan hukum internasional.

Konferensi soal Papua itu merupakan yang pertama digelar di luar negeri. Berikut keterangan Benny Wenda, Ketua Free West Papua di Inggris, sebagaimana dilansir Radio Nederland, Kamis (4/8/2011).

Konferensi itu membahas mengapa rakyat Papua ditekan dan harus ikut kemauan negara-negara asing selain Indonesia, di antaranya Amerika Serikat dan Belanda. Rakyat Papua selalu merindukan hak-haknya yang menurut standar hukum internasional. "Itu yang menjadi akar masalah di Indonesia sejak tahun 1963, di mana Indonesia secara ilegal menguasai tanah Papua. Sampai hari ini terjadi pembunuhan, pemenjaraan, dan pemerkosaan di mana-mana."

Konferensi tersebut juga menilai dan melihat kembali apa yang terjadi. Sebetulnya ada tiga kesepakatan. Namun, sampai saat ini belum diumumkan secara resmi. Poin terakhir adalah rakyat Papua punya hak untuk menentukan nasib sendiri sesuai dengan hukum internasional.

Benny menjelaskan, referendum Pepera yang terjadi sesuai dengan kesepakatan New York ternyata tidak dilaksanakan di lapangan. Yang harus terjadi, lanjutnya, adalah one man one vote. Namun, rakyat Papua tidak pernah memilih dan tidak pernah dipilih. Indonesia sebetulnya sudah menyetujui hal tersebut, tetapi tidak pernah dilaksanakan di Papua.

Sementara itu, kerusuhan yang terjadi di Papua beberapa hari terakhir, menurut Benny, sebetulnya sudah "diatur" sehubungan dengan adanya konferensi tersebut. "Dua hari sebelumnya sudah ada kekerasan di mana-mana. Ini merupakan skenario supaya militer ada di Papua. Supaya dunia luar melihat bahwa rakyat Papua itu menciptakan kekerasan."

Benny menduga skenario tertentu dilakukan intelijen Indonesia dengan militer. Jadi, yang terjadi pada setiap acara yang menyangkut kegiatan konferensi selalu saja seperti ini. Ini bakal menjadi pertanyaan besar oleh dunia.

Konferensi sehari soal Papua di London itu diikuti 150 wakil Papua di seluruh dunia dan perwakilan kelompok hak asasi manusia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau