Putri akhirnya harus mengalah. Harimau sumatera itu mau tak mau harus meninggalkan ”rumah” yang dikenal selama ini dan berpindah ke pulau di seberang lautan. Inilah akhir sebuah konflik antara harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae
Selasa (2/8), harimau betina berusia tujuh tahun itu dipindahkan ke Pulau Betet di kawasan Taman Nasional Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Selama 10 detik, Putri menjadi bintang. Belasan kamera wartawan dari dalam dan luar negeri merekam langkah pertama harimau betina itu meninggalkan kandangnya. Segera tubuhnya menghilang di balik semak dan pepohonan.
Pelepasliaran Putri diprakarsai perusahaan kertas Asia Pulp and Paper (APP) dan anak usahanya Sinar Mas Group bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Sembilang, Yayasan Pelestarian Harimau Sumatera (YPHS), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, dan Taman Safari Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan,
Pemindahan Putri bermula dari tewasnya dua pekerja di lahan PT Sumber Hijau Permai (SHP), anak usaha Sinar Mas Group yang memasok pulp untuk APP, beberapa bulan lalu. Putri, yang diduga menyerang dua pekerja tersebut, ditangkap di sekitar kawasan konsesi hutan produksi PT SHP pada 18 April lalu.
Salah satu pengasuh Putri, Puji Karno (40), mengatakan, Putri ditangkap dengan umpan kambing dan perangkap baja yang disediakan BKSDA Sumsel. Sebelum dipindah ke Pulau Betet, harimau berbobot 75 kilogram itu dipindahkan ke kandang observasi yang dibangun APP. Kesehatannya diperiksa tim Taman Safari Indonesia. Sebuah kalung GPS seharga 6.000 dollar AS pun dipesan khusus, sementara tim YPHS bertugas mencari lokasi yang cocok untuk pelepasan.
Managing Director APP Aida Greenbury mengatakan, pelepasan Putri adalah upaya untuk menjaga keselamatan, baik Putri maupun masyarakat yang bekerja di sekitar area konsesi PT SHP. ”Kami semua bekerja sama agar manusia dan harimau dapat hidup bersama-sama dalam harmoni,” katanya.
Namun, pemindahan Putri sebenarnya juga mengungkap kenyataan pahit. Putri adalah satu dari banyak satwa yang terpaksa kalah dan tersingkir dari habitatnya.
Nasib pilu ini harus ditanggung setiap satwa yang hutannya dijamah tangan manusia. Tidak terhitung satwa liar yang harus menderita, terusir, bahkan tewas karena habitatnya menjadi perkebunan, hutan tanam industri, atau apa pun nama kegiatan manusia itu.
Awal Juli, Greenpeace meluncurkan rekaman harimau sumatera yang mati di jeratan manusia di areal hutan tanaman industri di Riau. Dari Bengkulu juga dilaporkan, tujuh gajah mati di kawasan Pusat Latihan Gajah Seblat, hanya dalam lima bulan terakhir. Kematian gajah di sekitar area perkebunan kelapa sawit tersebut juga diduga karena racun.
Pembina YPHS Bastoni menyebutkan, setiap tahun, jumlah harimau sumatera berkurang 50 ekor. Sebagian besar kematian akibat perburuan, baik untuk perdagangan maupun perburuan karena konflik dengan manusia. Saat ini, jumlah harimau sumatera diperkirakan tersisa 300 ekor.
”Apabila pelestarian tidak segera dilakukan, harimau sumatera akan ikut punah menyusul harimau jawa dan bali yang sudah punah sejak dulu,” ucapnya.
Meskipun pahit, Bastoni menilai pemindahan Putri adalah jalan tengah terbaik untuk kondisi saat ini. Dengan begitu, manusia selamat, satwa pun selamat. ”Saatnya berhenti menyalahkan. Waktunya bertindak dengan kondisi yang sudah seperti ini,” tuturnya.
Setidaknya, pemindahan Putri ke Pulau Betet menjadi awal dibukanya suaka bagi harimau sumatera korban konflik dengan manusia. ”Kalau ada harimau sumatera yang terlibat konflik di tempat lain, kami siap menampung di sini,” kata Tatang, Kepala Balai Taman Nasional Sembilang.
Pulau seluas sekitar 4.000 hektar tersebut dinilai tepat sebagai habitat baru harimau karena adanya binatang buruan, air tawar, kawasan perbukitan, dan indikasi adanya harimau sumatera lain. Semoga semuanya ini bukan janji belaka.