Harimau sumatera

Ketika Putri Harus Mengalah

Kompas.com - 06/08/2011, 04:18 WIB

Putri akhirnya harus mengalah. Harimau sumatera itu mau tak mau harus meninggalkan ”rumah” yang dikenal selama ini dan berpindah ke pulau di seberang lautan. Inilah akhir sebuah konflik antara harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan manusia.

Selasa (2/8), harimau betina berusia tujuh tahun itu dipindahkan ke Pulau Betet di kawasan Taman Nasional Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Selama 10 detik, Putri menjadi bintang. Belasan kamera wartawan dari dalam dan luar negeri merekam langkah pertama harimau betina itu meninggalkan kandangnya. Segera tubuhnya menghilang di balik semak dan pepohonan.

Pelepasliaran Putri diprakarsai perusahaan kertas Asia Pulp and Paper (APP) dan anak usahanya Sinar Mas Group bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Sembilang, Yayasan Pelestarian Harimau Sumatera (YPHS), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, dan Taman Safari Indonesia.

Kegiatan ini dihadiri Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, dan Bupati Banyusin Amiruddin Inoed; termasuk belasan wartawan media cetak dan televisi yang meliput langkah pertama Putri keluar kandang. Perjalanan menghabiskan sekitar 10 jam pergi-pulang dengan kapal cepat (speedboat) menyusuri Sungai Musi untuk mengabadikan momen 10 detik itu.

Menyerang manusia

Pemindahan Putri bermula dari tewasnya dua pekerja di lahan PT Sumber Hijau Permai (SHP), anak usaha Sinar Mas Group yang memasok pulp untuk APP, beberapa bulan lalu. Putri, yang diduga menyerang dua pekerja tersebut, ditangkap di sekitar kawasan konsesi hutan produksi PT SHP pada 18 April lalu.

Salah satu pengasuh Putri, Puji Karno (40), mengatakan, Putri ditangkap dengan umpan kambing dan perangkap baja yang disediakan BKSDA Sumsel. Sebelum dipindah ke Pulau Betet, harimau berbobot 75 kilogram itu dipindahkan ke kandang observasi yang dibangun APP. Kesehatannya diperiksa tim Taman Safari Indonesia. Sebuah kalung GPS seharga 6.000 dollar AS pun dipesan khusus, sementara tim YPHS bertugas mencari lokasi yang cocok untuk pelepasan.

Managing Director APP Aida Greenbury mengatakan, pelepasan Putri adalah upaya untuk menjaga keselamatan, baik Putri maupun masyarakat yang bekerja di sekitar area konsesi PT SHP. ”Kami semua bekerja sama agar manusia dan harimau dapat hidup bersama-sama dalam harmoni,” katanya.

Tersingkir dari ”rumah”

Namun, pemindahan Putri sebenarnya juga mengungkap kenyataan pahit. Putri adalah satu dari banyak satwa yang terpaksa kalah dan tersingkir dari habitatnya.

Nasib pilu ini harus ditanggung setiap satwa yang hutannya dijamah tangan manusia. Tidak terhitung satwa liar yang harus menderita, terusir, bahkan tewas karena habitatnya menjadi perkebunan, hutan tanam industri, atau apa pun nama kegiatan manusia itu.

Awal Juli, Greenpeace meluncurkan rekaman harimau sumatera yang mati di jeratan manusia di areal hutan tanaman industri di Riau. Dari Bengkulu juga dilaporkan, tujuh gajah mati di kawasan Pusat Latihan Gajah Seblat, hanya dalam lima bulan terakhir. Kematian gajah di sekitar area perkebunan kelapa sawit tersebut juga diduga karena racun.

Pembina YPHS Bastoni menyebutkan, setiap tahun, jumlah harimau sumatera berkurang 50 ekor. Sebagian besar kematian akibat perburuan, baik untuk perdagangan maupun perburuan karena konflik dengan manusia. Saat ini, jumlah harimau sumatera diperkirakan tersisa 300 ekor.

”Apabila pelestarian tidak segera dilakukan, harimau sumatera akan ikut punah menyusul harimau jawa dan bali yang sudah punah sejak dulu,” ucapnya.

Meskipun pahit, Bastoni menilai pemindahan Putri adalah jalan tengah terbaik untuk kondisi saat ini. Dengan begitu, manusia selamat, satwa pun selamat. ”Saatnya berhenti menyalahkan. Waktunya bertindak dengan kondisi yang sudah seperti ini,” tuturnya.

Setidaknya, pemindahan Putri ke Pulau Betet menjadi awal dibukanya suaka bagi harimau sumatera korban konflik dengan manusia. ”Kalau ada harimau sumatera yang terlibat konflik di tempat lain, kami siap menampung di sini,” kata Tatang, Kepala Balai Taman Nasional Sembilang.

Pulau seluas sekitar 4.000 hektar tersebut dinilai tepat sebagai habitat baru harimau karena adanya binatang buruan, air tawar, kawasan perbukitan, dan indikasi adanya harimau sumatera lain. Semoga semuanya ini bukan janji belaka.

(IREne Sarwindaningrum)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau