Perjuangan Kian Berat

Kompas.com - 06/08/2011, 04:42 WIB

Jakarta, Kompas - Ganda putra andalan Indonesia, Markis Kido/Hendra Setiawan, batal tampil pada kejuaraan dunia bulu tangkis di London, Inggris, 8-14 Agustus 2011. Absennya pasangan non-pelatnas ini membuat peluang Indonesia merebut gelar dari sektor ganda putra mengecil.

Pasangan juara Olimpiade Beijing 2008 ini harus absen karena kondisi kesehatan Markis Kido tidak memungkinkan. Markis Kido didiagnosis terkena gejala tifus dan harus dirawat di rumah sakit. ”Ya, sayang sekali saya batal berangkat. Tentu saja, ini mengecewakan,” kata pemain klub PB Jaya Raya itu, Jumat.

Kamis (4/8), Kido masih sempat konsultasi ke dokter di pelatnas PBSI Cipayung. Namun, setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit, Kido didiagnosis terkena gejala tifus. Kido pun harus dirawat di Rumah Sakit Global Bekasi.

Tinggal dua wakil

Di kejuaraan dunia, Kido/Hendra diunggulkan di tempat keenam. Dengan absennya mereka, Indonesia tinggal menyisakan dua wakil, yakni pasangan Bona Septano/M Ahsan dan duet pemain non-pelatnas Hendra Aprida Gunawan/Alvent Yulianto.

Wakil Ketua Umum I PBSI Sabar Yudo Suroso juga menyayangkan absennya Markis/ Hendra. ”Situasi seperti ini memang sulit dihindarkan. Tentu saja, ini tidak menguntungkan buat kita,” kata Sabar yang menemani atlet pelatnas berangkat ke London Jumat malam.

Dominasi China

Becermin dari kejuaraan dunia sebelumnya, dominasi sepertinya akan kembali milik China. Namun, dari lima nomor yang dipertandingkan, sektor ganda putra dan ganda campuran masih sangat mungkin ditembus.

”Bukan cuma Indonesia, negara lain pun juga bertarung di nomor ini. Sayangnya, kita justru kehilangan satu wakil sehingga perjuangan akan semakin berat di ganda putra,” ujar Sabar.

Di ganda campuran, lanjut Sabar, PBSI masih yakin, pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir bisa membuat kejutan. Dalam tiga turnamen besar, Tontowi/Liliyana berturut-turut tampil di final dengan dua kali juara di India dan Singapura dan runner-up di Indonesia Terbuka.

Tiga sektor lainnya, tunggal putra dan putri serta ganda putri, akan lebih sulit ditembus. Di tunggal putra, China punya empat wakil, Lin Dan, Chen Long, Chen Jin, dan Du Pengyu.

Lin Dan menjadi pemain yang sulit ditaklukkan. Di luar pemain China, Lee Chong Wei dari Malaysia dan Sho Sasaki berpeluang mengejutkan. Sementara pemain Indonesia, Simon Santoso dan Dionysius Hayom Rumbaka, masih kalah kelas.

Di tunggal putri, dominasi China lebih menakutkan. Empat pemain yang tampil merupakan empat pemain yang mengisi peringkat teratas BWF. Di nomor ini, pemain-pemain yang berpeluang mengukir kejutan di antaranya Tine Baun (Denmark), Saina Nehwal (India), Juliane Schenk (Jerman), dan Cheng Shao Chieh (Taiwan).

Pada ganda putri, pasangan Wang Xiaoli/Yu Yang terlalu sulit untuk dihentikan. Hasil di Indonesia Open Juni lalu menunjukkan keperkasaan mereka. (OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau