Bursa capres

Demokrasi Masih Sebatas Pemilu

Kompas.com - 06/08/2011, 08:50 WIB

 JAKARTA, KOMPAS.com — Pelaksanaan demokrasi di Indonesia masih lebih dimaknai sebagai pesta hura-hura pemilihan umum. Ini terlihat dari mulai maraknya pembicaraan bursa calon presiden 2014-2019 meski pemilu masih tiga tahun lagi.

"Semua hanya terfokus pada pemilu dan bukan bagaimana mengisi waktu lima tahun untuk melakukan kerja secara demokratis demi kemaslahatan rakyat. Ini pseudo democracy (demokrasi semu) yang tidak lagi memiliki makna buat masyarakat," kata Yunarto Wijaya dari Charta Politika, Sabtu (6/8/2011), di Jakarta.

Saat ini, sejumlah kalangan mulai menyebut calon presiden untuk Pemilu 2014. Partai Serikat Rakyat Independen telah menyatakan mengusung mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Beberapa nama lain yang mulai disebut adalah Prabowo Subianto oleh Partai Gerakan Indonesia Raya, Aburizal Bakrie dari Partai Golkar, dan Hatta Rajasa dari Partai Amanat Nasional.

Yunarto menilai, politik nasional saat ini seperti kembali ke masa awal reformasi, yang disibukkan oleh perebutan kekuasaan politik oleh para elite. Bahkan, bisa dikatakan, 2009-2014 adalah era kampanye politik menuju 2014 dan bukan era bekerja.

"Ini adalah cerminan dari kondisi psikologi politik secara riil yg terjadi di level elite. Tertutupnya kemungkinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk maju dalam Pemilu Presiden 2014 telah melipatgandakan nafsu politik dari semua aktor," tuturnya.

Akibatnya, lanjut Yunarto, wacana seperti tentang koalisi pemerintahan, politik hukum, dan pencalonan presiden menjadi lebih panas dibandingkan dengan sebelumnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau