Cinta, Piano, dan Secangkir Kopi

Kompas.com - 07/08/2011, 02:23 WIB

Nur Hidayati

Bagi pasangan Addie MS dan Memes, rumah adalah tempat kencan terbaik, ruang untuk berkarya, dan tempat musik meriangkan batin. Selain itu, juga ruang menikmati kesendirian.

Memasuki rumah pasangan Addie MS (51) dan Memes (46), warna-warna lembut yang terang mendominasi: putih dan krem. Kemeriahan hanya hadir lewat ornamen hias yang tertata rapi, mulai dari boneka pajangan, lukisan, aneka lilin, hingga tanaman hias dalam rumah.

”Buat orang lain mungkin rumah ini kelihatan biasa-biasa saja, tetapi buat aku sudah menjadi karunia yang luar biasa,” ujar Addie music director dan konduktor Twilite Orchestra ini.

Addie berumpama, di rumahnya, jagat raya terasa seolah memancarkan frekuensi yang tepat menyambung ke dalam dirinya. ”Ada getaran yang pas,” katanya.

Melangkah sedikit dari ruang tamu, kelegaan terasa di ruang tengah rumah. Ruang tengah ini didesain menyambung dengan ruang makan, dapur kering, dan ”sudut kopi”—pojok bawah tangga, tempat mesin kopi Addie dan lemari camilan Memes.

Jajaran pintu kaca membatasi ruang tengah dengan kolam renang di halaman belakang. Bangunan rumah ini dibangun di atas lahan sekitar 500 meter persegi. Pasangan musisi dan penyanyi ini, serta kedua putra mereka, Kevin Aprilio (21) dan Tristan Juliano (14), tinggal di sini sejak 13 tahun lalu.

Di ruang tengah rumah pula, sebuah grand piano ditempatkan di salah satu sudut, seolah menandai kehadiran musik di rumah ini. Itu bukan satu-satunya piano di rumah ini. Pasalnya, piano adalah perangkat wajib dalam tiap kamar tidur di rumah ini.

Studio mini Addie, yang menyambung ke kamar tidurnya, dilengkapi piano, komputer, dan perangkat lain yang memungkinkan ia menulis komposisi musik. Studio mini itu juga bisa digunakan Kevin untuk merekam demo musik dan vokal Vierra—nama grup musiknya. Di kamar tidur Kevin, ditaruh pula piano dan keyboard. Sementara jenis piano di kamar Tristan menunjukkan seleranya yang mengarah klasik. Nyata sudah, musik memang belahan jiwa para penghuni rumah ini.

Bukan hanya perangkat musik yang menjadi properti pribadi masing-masing. Selera musik Addie, Memes, Kevin, dan Tristan, juga urusan pribadi masing-masing. Addie mendalami musik klasik; Kevin kini lebih tertarik pada pop Korea, pop Jepang, dan Disney; Tristan berminat pada aliran klasik dan rock; sedangkan Memes menggemari jazz dan R & B.

”Aku baru bisa ’ketemu’ sama mas Addie di pop jazzy,” ujar Memes yang Februari lalu meluncurkan album ke-9 bertajuk Acoustic Love.

Ritual sore

Addie menyebut dirinya sebagai orang ”rumahan”. Rumah baginya juga menjadi tempat ia mencari inspirasi dan bekerja. Di luar kepentingan pertunjukan, paling banyak hanya dua hari dalam sepekan Addie keluar rumah. Sebisa mungkin ia melakukan pekerjaan di rumah. Apalagi, beragam gadget kini sudah bisa membuatnya terus terkoneksi dengan dunia luar.

Di rumah pula Addie menikmati ”me time” yang paling berkualitas: tiap sore ia akan meracik sendiri secangkir kopi. Lalu ia tenteng kopi buatannya itu ke bangku di tepi kolam renang di halaman belakang, atau ke teras lantai atas, atau ke tepi kolam renang kompleks saat suasana di fasilitas permukiman yang tak jauh dari rumahnya itu sedang sepi.

Di bangku tepi kolam, berteman kopi dan iPod musik, Addie bisa melewatkan waktu hingga dua jam untuk mengisap cerutu. Itulah ritual sorenya. ”Dengan kopi, iPod, dan cerutu itu aku sebenarnya bukan cari inspirasi, tetapi justru mengosongkan pikiran, melepas semua kepenatan,” ujarnya.

Tepi kolam renang di halaman belakang yang terbuka itu menyuguhkan pemandangan langit yang bisa memperbaiki mood. Akan tetapi, pilihan lokasi ritual sore itu berkait pula dengan peraturan Memes: dilarang merokok atau mengisap cerutu—dan meninggalkan baunya—di dalam rumah.

Janji ketemu

Rumah bagi keluarga ini juga lokasi ”kencan” terbaik. Anak-anak yang makin sibuk dengan kegiatan masing-masing, membuat Addie, Memes, Kevin, dan Tristan mesti sesekali membuat janji ketemu di meja makan.

”Paling nyaman kami janjian makan bersama memang di rumah, bukan makan di luar. Anak-anak juga enggak nyaman ngobrol di tempat yang ramai,” ujar Memes.

Bangunan rumah dua lantai di permukiman bertipe townhouse di kawasan Pondok Labu, Depok, ini merupakan rumah kedua yang ditempati pasangan Addie dan Memes.

Setelah menikah pada 1987, keduanya sempat tinggal di sebuah perumahan di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. ”Kami mulai dari nol di situ dengan rumah yang kosong, perabot dibeli satu-satu,” kata Memes.

Pada 1998, pasangan ini pindah ke Pondok Labu demi mendapat lingkungan yang lebih tenang. ”Dulu, konsentrasi bikin aransemen kadang-kadang bisa buyar karena tiba-tiba ada suara tukang es krim,” ujar Addie.

Lingkungan townhouse yang ditinggali Addie dan Memes kini memang tak mengizinkan pedagang keliling masuk ke dalam kompleks. Permukiman yang hanya terdiri dari 36 rumah ini pun terkesan lengang.

Addie dan Memes sepakat, rumah ini sudah memenuhi kriteria rumah idaman mereka. Kalaupun masih ada yang kurang, kata Memes, ia berharap masih bisa menambah lahan untuk taman. Sementara bagi Addie, cukup dengan memindahkan koleksi buku pribadinya dari kantor ke rumah, sempurna sudah rumah ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau