DHAKA, SENIN -
Surat penangkapan tersebut dikeluarkan menyusul dugaan Rahman berupaya mentransfer uang suap senilai jutaan dollar Amerika Serikat ke luar negeri.
Pengadilan mendakwa Rahman secara in absentia berikut seorang rekan bisnisnya, yang kemudian dinyatakan tak bersalah, Giasuddin Al Mamun.
Rahman pergi ke London, Inggris, pada tahun 2008 untuk berobat. Namun, dia menolak pulang kembali ke tanah airnya, termasuk untuk menghadiri persidangannya di pengadilan.
Jaksa penuntut menyebut Rahman dan Mamun mentransfer uang senilai 2,73 juta dollar AS ke Singapura setelah menerima uang suap itu.
Mereka menerima suap dari sebuah perusahaan yang mereka bantu sebelumnya. Perusahaan itu memenangi kontrak pembangunan fasilitas pembangkit listrik saat sang ibu masih menjabat sebagai PM.
Pengacara Rahman di persidangan berargumen, pihak pengadilan seharusnya tidak menjatuhkan dakwaan seperti itu mengingat petisi yang sebelumnya diajukan klien mereka masih diproses di tingkat Mahkamah Agung. Petisi itu berisi pembelaan Rahman kalau kasusnya dipolitisasi.
Namun, pengadilan berkeras hal itu tidak perlu menjadi soal. Surat perintah penangkapan bisa dikeluarkan pengadilan walau MA belum menyikapi atau memutuskan petisi Rahman sebelumnya.
Pada Juni lalu, pengadilan juga menjatuhkan vonis penjara selama enam tahun terhadap
Partai oposisi pimpinan Zia, BNP, menolak seluruh tuduhan pengadilan terhadap anak-anak Zia. Mereka mencurigai motif politik di balik semua tuduhan dan putusan pengadilan tersebut.
Sebelumnya Rahman kerap disebut-sebut bakal menggantikan kepemimpinan sang ibu, terutama di partainya, yang sekarang menjadi partai oposisi di Banglades.
Selain tuduhan korupsi, Rahman dan 18 orang lainnya juga dituduh terlibat dalam sebuah serangan mematikan yang dilancarkan para pengunjuk rasa politik pada tahun 2004.
Dalam serangan itu, sedikitnya 24 granat diledakkan di tengah- tengah para pengunjuk rasa yang menyebabkan sedikitnya 20 orang tewas seketika.
Unjuk rasa itu digelar Partai Liga Awami, yang ketika itu berposisi sebagai oposisi tetapi sekarang berbalik menjadi partai penguasa di pemerintahan Banglades.
Dalam insiden tersebut, istri presiden yang sekarang, Zilur Rahman, ikut menjadi korban tewas. Kepolisian Banglades menuduh Rahman sebagai dalang di balik insiden berdarah itu dengan maksud mencoba menyingkirkan lawan-lawan politik ibunya.
Tokoh senior Partai BNP, Amir Khasru Mahmud Chaudhury, balik menilai partai lawan sengaja merusak reputasi keluarga Zia demi mencari popularitas.