Kriminalitas

Niat Berbagi Makanan Sahur, Malah Dicelurit

Kompas.com - 09/08/2011, 03:29 WIB

Rian (20) dan temannya, sesama penggemar musik yang kerap nongkrong di Bundaran Air Mancur, Kota Bogor, sejak awal bulan Ramadhan mengamen di rumah makan. Uang itu lalu digunakan membeli makanan yang akan dibagikan kepada gelandangan di sekitar Kota Bogor. Saat membagikan makanan sahur, Rian justru mendapat sabetan celurit.

Saat kejadian, Minggu (7/8) dini hari, Rian dan puluhan temannya, laki-laki dan perempuan, naik sepeda motor berkeliling mulai dari Pasar Bogor, Paledang, hingga ke Pusat Grosir Bogor (PGB). Mereka membawa sekitar 200 paket makanan dan minum untuk tunawisma yang mereka temui di jalan.

Begitu mendekati PGB, mereka diserang. ”Tiba-tiba ada lima orang di belakang kami. Mereka meneriakkan nama salah satu SMK, lalu mengayunkan celurit. Kena punggung saya,” tutur Rian saat ditemui di Markas Polres Bogor Kota, Senin (8/8).

Rombongan Rian ketika itu sebenarnya cukup banyak, puluhan orang. Namun, akibat akumulasi rasa bingung, takut, dan khawatir karena di rombongannya banyak perempuan, mereka kabur. Rian langsung dibawa ke Rumah Sakit Salak. Luka di punggungnya mendapat tiga jahitan dan lukanya cukup dalam. Namun, luka itu tidak sampai membahayakan nyawa Rian.

”Setelah kejadian itu, kami coba mendatangi lagi sekitar lokasi. Ternyata, dari warga sekitar, kami mendengar sebelumnya ada masalah antarsekolah. Ada yang tawuran. Warga memperkirakan yang menyerang itu mengira kami dari sekolah musuh mereka,” tutur Gema (21), teman Rian.

Setelah kejadian itu, mereka melaporkan penyerangan tersebut ke Polres Bogor Kota. Kasus itu kini ditangani Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor Kota.

Rian dan teman-temannya menyayangkan penyerangan itu. Apalagi, mereka sedang menggelar kegiatan sosial. Sepekan sebelumnya, mereka mengamen selepas maghrib di salah satu rumah makan di Jalan Pajajaran, Bogor, hingga akhirnya terkumpul Rp 200.000. Karena masih kurang, mereka bantingan Rp 20.000 per orang untuk membeli lebih banyak makanan.

”Saya enggak kapok untuk tetap memberi makanan sahur kepada sesama. Ini sudah rutin kami lakukan setiap tahun. Namun, sayang sekali ada masalah tawuran, kami yang kena getahnya,” ujarnya.

Tawuran pelajar di Kota Bogor cukup sering terjadi. Pada beberapa kesempatan, orang yang tak tahu-menahu ikut menjadi korban, entah warga sekitar ataupun pelajar. Data Satuan Tugas Pelajar Dinas Pendidikan Kota Bogor, selama tahun 2010-2011 sudah tujuh pelajar tewas akibat tawuran.

”Kalau kejadian tawuran skala kecil menengah dengan melibatkan pelajar dengan jumlah 1-2 angkutan kota sudah puluhan kali terjadi dalam tahun ini. Namun, kalau skala besar di tengah kota belum,” tutur Ketua Pelaksana Harian Satuan Tugas Pelajar TB Muhamad Ruchjani.

Menurut dia, pendorong tawuran itu nyaris tak ada. Pelajar hanya mencari-cari persoalan untuk dijadikan pemicu. Ruchjani menilai tawuran itu merupakan aktualisasi diri remaja yang negatif akibat kurangnya kedisiplinan yang diterapkan oleh manajemen sekolah. Ruchjani tidak sependapat jika minimnya fasilitas olahraga dijadikan kambing hitam tawuran di Kota Bogor.

”Kalau sanksi dari sekolah juga lemah, bagaimana? Sekolahnya juga tidak disiplin. Misalnya saja, seharusnya satu kelas 36 siswa, nyatanya ada yang 40-60 siswa sekelas. Sulit mengawasi siswa kalau begitu,” katanya.

Apa pun, harus ada upaya untuk menekan tawuran agar tidak terus menerus jatuh korban, apalagi mereka yang tak tahu-menahu…. (Antony Lee)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau