Transportasi

Naik Kopaja AC, "Mak Nyeess"...

Kompas.com - 09/08/2011, 03:34 WIB

Teriknya siang lenyap seketika begitu masuk ke bus kopaja AC. Sejuk pendingin udara serta empuk bangku warna hijau terang dan krem menambah nyaman perjalanan. Dari pengeras suara terdengar alunan lagu-lagu yang diputar di radio.

”Nyaman, enak. Walaupun jalan macet, tidak tersiksa di bus,” ujar Karti (63), penumpang dari Grogol, yang hendak pulang ke Pasar Minggu.

Hari Senin (8/8), untuk pertama kali bus kopaja AC meluncur di jalanan Ibu Kota melayani rute Ragunan-Grogol. Tarifnya masih tarif promosi, sebesar Rp 2.000.

Sebelum kopaja AC diluncurkan, Karti harus menunggu bus P54 jurusan Depok-Grogol untuk pergi-pulang ke tempat kerja. ”Sudah nunggu-nya lama, penuh pula. Selalu berdesak-desakan. Sampai-sampai dashboard dipakai untuk duduk,” katanya.

Menurut penuturan kondektur bus, Diyan Prasetiyo, bus mulai keluar pul pukul 04.30. Bus terakhir masuk pul pukul 23.00. Ada 20 bus kopaja AC yang diluncurkan pada tahap awal.

Bus tampak bersih. Perlengkapan standar keselamatan, seperti tabung pemadam api dan pemukul kaca, tersedia. Tak ada pengamen dan penjual asongan di dalam bus.

Bus juga tidak menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat, hanya di halte-halte bus. Awak bus mengenakan seragam biru tua dan tanda pengenal selama bertugas.

Kemarin siang hanya ada lima penumpang di dalam kopaja AC. Akan tetapi, Nurlan (31), sopir bus, tidak menjalankan busnya dengan tergesa-gesa. Kecepatan bus sekitar 20 kilometer per jam hingga 40 kilometer per jam. Bus berhenti di setiap halte tak lebih dari 1 menit, lalu melaju kembali.

Tak kejar setoran

Tak seperti bus reguler lainnya yang mengejar setoran, sopir dan kondektur kopaja AC digaji bulanan. Gajinya sekitar Rp 2,5 juta untuk sopir dan Rp 2,25 juta untuk kondektur. Jam kerja dibagi dua giliran, pukul 04.30-14.00 dan pukul 14.00-23.00.

”Sekarang saya tidak terbebani setoran sehingga bisa lebih konsentrasi di jalan untuk membawa kendaraan,” tutur Nurlan. Sebelumnya, dia menjadi sopir bus P19 jurusan Blok M-Tanah Abang. Dia harus menyetor Rp 400.000 per hari.

”Ya, pasti jadi sering kejar-kejaran agar bisa dapat uang lebih dari setoran untuk dibawa pulang. Sekarang tidak perlu saingan dengan kopaja lainnya sehingga bisa santai,” ujarnya.

Bus kopaja AC berkapasitas 25 tempat duduk dan berdiri 9 orang. Menurut Diyan, jumlah penumpang berdiri bisa ditambah hingga maksimal 15 orang. Jika bus sudah penuh, dipasang papan bertuliskan ”maaf penuh” di kaca depan dan bus tidak akan menambah penumpang lagi.

Jumlah penumpang bisa diketahui dari palang tiga kaki (tripod) yang dipasang di pintu depan. Penumpang naik dari pintu depan dan turun di pintu belakang.

”Dalam satu kali shift bisa bolak-balik setidaknya dua kali dari Ragunan ke Grogol, tergantung dari jalannya juga, macet atau tidak. Yang pasti kami mengutamakan rasa aman, nyaman, dan menyenangkan bagi penumpang,” ujar Diyan.

Kemarin, jumlah penumpang masih sedikit. Masih banyak bangku kosong dan belum ada penumpang berdiri. Menurut Diyan, kemungkinan banyak orang yang belum tahu atau ragu-ragu untuk naik bus itu.

Penumpang menyatakan tidak keberatan jika harus membayar hingga Rp 3.500 dengan kenyamanan yang didapat di kopaja AC. ”Asal terus aman dan nyaman seperti ini, saya rasa tarifnya sampai Rp 3.500 pun tak masalah. Kalau saja semua bus kota seperti ini, tentu pengguna kendaraan pribadi mau naik bus,” ujar Melda, penumpang yang akan menuju ke Slipi.

Layanan prima

Menurut pengelola, kopaja AC ini dimaksudkan untuk melayani penumpang dengan lebih prima. ”Bus kopaja AC ini menjadi tantangan bagi kami. Kami ingin secara bertahap mengganti semua armada menjadi bus dengan tampilan fisik maupun layanan prima bagi konsumen,” kata Ketua I Kopaja Nanang Basuki.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyambut baik dioperasionalkannya kopaja AC ini.

”Ini langkah yang baik dalam memperbaiki kualitas sarana transportasi publik. Saya harap, peremajaan kondisi bus ini akan diarahkan pada kendaraan umum lainnya,” kata Fauzi.

Dia juga berpesan agar kualitas layanan ini tetap dijaga. ”Semakin baik kualitasnya, buat masyarakat saya kira semakin bagus,” ujar Gubernur.

Menurut dia, kendaraan kopaja AC ini ukurannya lebih besar dan dapat memuat lebih banyak penumpang sehingga penggunaan bahan bakar juga lebih irit. Jika nantinya semua angkutan umum berukuran lebih besar, jumlah armada angkutan umum yang turun ke jalan berkurang sehingga jalan tidak dipenuhi kendaraan yang kosong menunggu penumpang.

Gubernur juga mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selalu berupaya menyediakan angkutan umum yang nyaman, tepat waktu, jumlah yang cukup, dan harga yang terjangkau.

(FRO/ARN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau