Bom Bunuh Diri di Pakistan

Kompas.com - 12/08/2011, 02:26 WIB

Peshawar, Kamis - Seorang perempuan berbusana burqa melakukan bom bunuh diri di Gerbang Lahori, Peshawar, Pakistan, Kamis (11/8). Akibatnya, lima orang tewas. Sejam sebelumnya, bom meledak di lokasi sama dan menewaskan lima orang. Total 10 orang tewas akibat bom yang mengincar polisi, yang diduga dilakukan sayap Al Qaeda.

Bulan Ramadhan di Pakistan tahun ini berlumuran darah. Serangan bom bunuh diri kali ini dilakukan oleh seorang wanita berbusana burqa. Dia memakai rompi berisi bom dan mengincar anggota kepolisian. Perempuan itu melemparkan granat ke sebuah mobil polisi, lalu meledakkan dirinya sendiri.

Sasaran bom dari wanita itu adalah pos polisi di sekitar Gerbang Lahori, kota Peshawar. Lima orang tewas seketika dan 16 orang terluka parah, termasuk seorang anak laki-laki berusia 10 tahun. Perempuan itu berusia 17-18 tahun.

”Sekitar 20 meter dari titik serangan pertama, perempuan itu meledakkan dirinya sendiri hingga tewas,” kata pejabat kepolisian, Shafqat Malik.

Rompi yang digunakan perempuan itu tidak seluruhnya rusak akibat ledakan tersebut. ”Selain menewaskan pelaku, seorang perempuan lain juga terbunuh dan tiga polisi terluka,” kata Malik.

Semula diduga, perempuan lain yang tewas itu juga membawa bahan peledak. Setelah diselidiki, polisi menyatakan, perempuan lain itu bukan pelaku bom bunuh diri.

”Perempuan lain itu berusia sekitar 60 tahun. Wajahnya rusak parah dan sulit dikenali. Tidak ada tanda-tanda tubuhnya terbalut rompi bahan peledak. Kami yakin dia pelintas biasa,” kata dokter Rahim Afridi.

Hal yang sama disampaikan seorang polisi, Imtiaz Shah. Namun, dia mengatakan, perempuan kedua yang pelintas biasa itu tidak terkait dengan pelaku bom bunuh diri dan berusia sekitar 17 tahun. Penjelasan terkait usia wanita kedua berbeda dengan yang dikatakan Afridi.

”Saya mengira, perempuan yang berjalan seiring dengan perempuan lain itu sedang hamil. Saya sedang berusaha menjauhi ledakan bom truk, tiba-tiba muncul ledakan kedua,” kata Mimayat Ullah, warga yang terluka.

Alat kendali jarak jauh

Sejam sebelumnya, terjadi ledakan bom yang menyasar truk polisi. Bom diketahui diledakkan lewat alat kendali jarak jauh. Lima orang tewas, yakni empat polisi dan satu anak berusia 12 tahun, serta 22 orang terluka.

”Seorang anak berusia 12 tahun tewas,” kata saksi mata, Mohabbat Khan (45). ”Truk membawa 20 polisi,” kata Shah, Selain menghancurkan truk, sekelompok anak sekolah yang berada di sekitar lokasi ledakan juga terluka. Bocah yang tewas itu adalah anak sekolah.

Dua serangan bom pada hari yang sama terjadi dalam jarak berdekatan di Peshawar. Kota ini, yang telah menjadi sasaran serangkaian bom selama bulan puasa dan jauh sebelumnya, adalah garis terdepan dari perlawanan Taliban. Kota ini sekaligus sebagai sabuk perbatasan tanpa hukum dari suku-suku Pakistan, yang oleh Washington disebut sebagai ”markas global jaringan Al Qaeda”.

Aksi bom bunuh diri kerap terjadi di Pakistan. Namun, pada umumnya pelaku bom bunuh diri adalah kaum pria, sementara perempuan yang terlibat dalam aksi mengerikan ini sangat jarang. Apalagi yang dilakukan oleh perempuan yang mengenakan busana burqa justru sesuatu yang langka.

Hingga kini wilayah Peshawar tidak bisa lepas dari aksi kekerasan seperti bom. Wilayah ini dianggap Amerika Serikat sebagai tempat paling berbahaya di dunia. Selain itu, Al Qaeda ditengarai membangun markasnya di wilayah yang terletak di bagian barat daya Pakistan tersebut.

Lebih dari 4.500 orang tewas akibat bom dalam waktu empat tahun di Pakistan. Sebagian bom diledakkan Taliban dan teroris sayap Al Qaeda. Bom kali ini pun diduga dilakukan kelompok ini.

(AFP/AP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau