Pembiusan

Segelas Jamu Merusak Kebahagiaan Khalim

Kompas.com - 12/08/2011, 03:41 WIB

Khalim (28) tidak menyangka, mudik Lebaran tahun ini menjadi pengalaman kelabu. Cendera mata dan tabungan untuk keluarga di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, harus ludes akibat dia menjadi korban pembiusan.

Khalim cuma bisa berkisah dengan nada pelan dan sulit menerangkan musibah yang dialami secara runtun. Saat ditemui, Khalim masih terkulai di ranjang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Kota Bekasi, Kamis (11/8) siang. Baju dan celananya kotor, tetapi tidak bisa diganti sebab cuma itulah milik Khalim yang tersisa.

Hampir empat tahun Khalim bekerja di Hotel Boudl Al Malaz di Riyadh, Arab Saudi. Selama itu pula ia belum pulang ke rumah di Desa Putridalem, RT 03 RW 06, Kecamatan Jatitujuh, Majalengka. Lebaran 2011 inilah saat tepat bagi Khalim bergembira dengan keluarga sekaligus menikmati cuti enam bulan sebelum kembali ke Riyadh.

Khalim menumpang pesawat dari Riyadh tujuan Jakarta yang transit di Dubai, Uni Emirat Arab. Di Dubai inilah Khalim berkenalan dengan dua warga Indonesia yang mengaku bernama sama, yakni Nurkolik, yang masing-masing pelaut dan pelancong. Perkenalan itu menjadi pertemanan karena ketiganya ternyata satu pesawat dari Dubai menuju Jakarta.

Hari Kamis pagi, pesawat mendarat di Bandar Udara Soekarno-Hatta. Dengan memanggul ransel, Khalim mencari bus tujuan Terminal Kampung Rambutan dan melanjutkan lagi dengan bus menuju Majalengka.

Namun, kedua Nurkolik menawari Khalim agar ikut naik kendaraan mereka. Nurkolik yang pelaut menyopiri mobil dan berjanji mengantarkan Khalim hingga ke rumah.

”Katanya, mobil jemputan khusus untuk TKI,” ujar Khalim dengan nada pelan. Selain Khalim dan kedua Nurkolik, ada juga empat lelaki lainnya yang belum dikenal.

Di dekat Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, Nurkolik muntah-muntah, mungkin akibat masuk angin. Sopir berusaha menolong dengan membeli dan memberikan segelas jamu tolak angin. Khalim dan keempat lelaki lainnya juga ditawari dan diminta meminum jamu tolak angin itu dengan alasan agar tidak mabuk selama perjalanan.

Nah, tidak lama setelah meminum jamu itu, Khalim merasa tidak enak badan. Namun, Khalim menganggap badan tidak enak sebagai dampak perjalanan jauh dari Arab Saudi. Khalim belum curiga bahwa kondisi kesehatan melemah akibat meminum jamu tolak angin.

Telantar

Di Mega Bekasi Hypermall, mobil kembali berhenti. Kedua Nurkolik beralasan ingin mengambil komputer sebelum melanjutkan perjalanan. Khalim dan penumpang lain tidak protes, bahkan menyanggupi membantu mengangkat barang hingga mencari sendiri angkutan umum ke terminal terdekat.

Yang aneh, Khalim menurut saja ketika diminta membatalkan niat mencari sendiri angkutan umum sehingga tidak jadi mengambil tas dari bagasi mobil. Khalim juga menurut saat diminta menunggu di gerbang karena mobil hanya akan masuk sebentar mengambil barang. Namun, mobil tidak lagi menjemput Khalim. Pemuda ini pun bingung bagaimana mencari mobil itu.

”Sesudah itu, saya semakin lemas dan bingung,” kata Khalim. Pemuda yang mengaku belum menikah ini kemudian ditemukan dan diserahkan pengunjung kepada petugas Balai Kemitraan Polisi Masyarakat Hypermall. Khalim kemudian diantar ke RSU Kota Bekasi untuk dirawat hingga pulih.

Khalim kehilangan paspor dan visa, tas ransel berisi pakaian dan cendera mata, uang Rp 5,4 juta, dompet, dan telepon seluler. ”Yang tersisa cuma pakaian yang saya pakai ini,” katanya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Bekasi Kota Komisaris Dedy Murti Haryadi mengatakan, kasus yang menimpa Khalim ialah pembiusan.

Kasus seperti ini beberapa kali terjadi di kalangan penumpang. Pembiusan diduga marak sebab sudah masuk masa mudik Lebaran. Warga sebaiknya waspada agar tidak menjadi korban seperti Khalim.

Khalim menyesal telah percaya begitu saja menerima tawaran orang yang baru dikenal. Tawaran segelas jamu tolak angin itu menghancurkan kebahagiaannya.

(Ambrosius Harto Manumoyoso)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau