Hal itu dikatakan Made Sri Pana, peneliti bioteknologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Kamis (11/8) di Jakarta.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Ke-16, Rabu lalu, menegaskan pentingnya inovasi di bidang pangan. Keterbatasan pangan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan perubahan iklim.
Menurut Pana, saat ini pengembangan pangan pokok masih terbatas pada beras dan terigu. Dalam penanganan dampak bencana, pemerintah mendistribusikan beras dan mi instan.
Bahan pangan pokok lain, seperti talas atau umbi-umbian, sorgum, sagu, dan jagung, menghilang dari tradisi masyarakat.
”LIPI mengoleksi plasma nutfah talas sebanyak 40 varietas dari berbagai pulau selain Papua, yang ditempatkan di Cibinong Science Center LIPI,” kata dia.
Made Sri Pana menjalankan program riset kerja sama LIPI dengan International Network for Edible Aroids (INEA) periode 2011-2015. Tahun ini, Pana mengembangkan riset talas dengan mendatangkan 50 varietas talas lagi dari Samoa dan Fiji, serta Afrika. Talas dari Samoa dan Fiji untuk pengembangan varietas tahan salinitas, sedangkan talas dari Afrika untuk pengembangan varietas tahan kekeringan.
”Australia menggalakkan pertanian talas secara modern dan besar-besaran di bagian utara negara itu. Vietnam dan AS (Amerika Serikat) mengembangkan tepung talas untuk substitusi terigu,” kata Pana. Adapun Indonesia belum melakukan apa pun terkait hasil penelitian.
Deputi Menteri Riset dan Teknologi Bidang Kelembagaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Benyamin Lakitan mengatakan, teknologi untuk inovasi pangan terutama diversifikasi pangan bukan satu-satunya solusi. Masih terdapat kendala sosiokultural dan ekonomi masyarakat.
”Program Sistem Inovasi Daerah dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” kata Benyamin.
Eksklusivitas pusat riset
Direktur Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Wisnu Sardjono menyatakan, belum termanfaatkannya hasil riset secara optimal oleh industri, dihadapi lembaganya yang dibangun tahun 1980-an. Masalah ini berpangkal pada keberadaan pusat riset yang hingga kini bersifat eksklusif, tidak memiliki kaitan jelas dengan lembaga pendidikan dan industri.
Produk riset yang dihasilkan tidak bergulir ke industri untuk dimanfaatkan hingga memberi nilai tambah industri dan diproduksi sebagai barang konsumsi.
Pada awal pengembangan, BJ Habibie selaku Menteri Negara Riset dan Teknologi merintis keterpaduan tiga pihak itu dalam konsep pengembangan kawasan menjadi science base city.
Dalam pengembangan kawasan, Kemenristek bekerja sama dengan Japan Consortium Management Consulting. Kota Teknologi Shukuba di Jepang jadi acuan. Karena itu, di dekat Puspiptek dibangun technopark untuk pembangunan industri yang akan memanfaatkan hasil inovasi dari Puspiptek dan Institut Teknologi Indonesia (ITI) yang akan memasok tenaga ahli perekayasa.
”Sayangnya, rencana itu patah di tengah jalan akibat krisis moneter tahun 1997,” kata Wisnu. Yang terjadi, technopark menjadi gudang dan ITI mengalami kemunduran. Untuk mengatasi, Kemenristek akan membentuk lembaga intermediasi dan pusat inkubator di Puspiptek.