Menunggu nazaruddin

Dari Tidur hingga Nonton Film Horor

Kompas.com - 13/08/2011, 16:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Simpang siur waktu kedatangan Muhammad Nazaruddin di Indonesia, membuat wartawan bersiaga di sejumlah tempat yang diduga akan "disinggahi" mantan Bendahara Umum Partai Demkrat itu.

Sejak Sabtu (13/8/2011) dini hari, wartawan telah menunggu kedatangan Nazaruddin di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi di kawasan Kuningan, Jakarta.

"Saya tiba di sini pukul 05.30. Saat itu sudah ada hampir 100 wartawan," kata Moksa, wartawan salah satu media online di kantor KPK.

Hingga saat ini, ratusan wartawan masih setia menunggu Nazaruddin yang menurut kabar terakhir, baru akan tiba di Jakarta pada Sabtu malam nanti. Para wartawan ini, "berserakan" di depan kantor KPK, ruang wartawan, hingga lorong menuju ruang pengaduan masyarakat dan ruang humas KPK.

Untuk membunuh waktu dan kebosanan menunggu kedatangan Nazaruddin dan konferensi pers yang diduga akan dilakukan di KPK, belasan wartawan di ruang wartawan KPK menonton film horor lewat video cakram yang mereka bawa.

Sebagian wartawan memilih tidur di atas sleeping bag yang mereka bawa, atau di kursi yang ada di lobby dan lorong KPK. Namun, ada juga wartawan yang memilih menunggu dengan duduk-duduk sambil ngobrol ringan, membaca, atau terus mencari informasi terbaru terkait Nazaruddin. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau