Kenapa para wisatawan tetap suka berlibur ke Bali? Bukankah jalannya macet, budaya tradisionalnya kian sulit diakses, dan harga-harga terbilang lebih mahal dibandingkan dengan Thailand atau Sri Lanka.
Jawabannya sesungguhnya sederhana. Bila 35 lima tahun yang lalu mitos surgawi Bali hadir nyata dalam piodalan (upacara) pura, prosesi agama, dan pemandangan alam yang tiada duanya, kini mitos itu pada umumnya dirumuskan di ruang operasional pejabat eksekutif tertinggi (CEO) perusahaan pariwisata. Lalu diwujudkan dalam bentuk konkret di dalam setting hotel-hotel pulau ini, yang kini hampir semuanya, selain cantik, dilengkapi dengan spa, patung Buddha, dan kursus spiritualitas Timur. Wah?
Boleh jadi konsep pariwisata olahan industri ini mempunyai serentet akibat sosial dan ekologis yang sering negatif. Akan tetapi, tidak dapat disangkal bahwa hal itu telah juga melahirkan suatu industri lokal baru yang tengah naik daun: arsitektur tropikal bernuansa Bali. Para perintis awal dari arsitektur ini adalah orang-orang asing, seperti Peter Muller dan Kerry Hill, juga Made Wijaya. Namun, sejak kira-kira sepuluh tahun, muncul pula sejumlah arsitek lokal yang karya dan namanya tak kalah unggul. Yang paling mengemuka di antaranya Popo Danes.
Rambut putih, tetapi masih muda. Kaca mata bulat, tetapi juga keren. Popo Danes adalah contoh manusia Bali baru. Tidak kikuk bila berhadapan dengan klien asing atau santun berlebih, melainkan siap bekerja dengan mereka. Di sisi lain, tidak terlalu mengadiluhungkan budaya sendiri, tetapi kukuh mengajekkan hakikat arsitekturnya. Pendeknya seorang Bali yang alih-alih sekadar mengutuk globalisasi, melainkan tak segan-segan menjadi pelaku di dalamnya. Buktinya, proyek arsitektur tropikal yang ditanganinya di Thailand dan India bermodal apa yang telah dia pelajari dengan kelokalannya di Bali.
Popo Danes menyajikan pengalamannya melalui suatu pameran karya-karya arsitekturnya di Bentara Budaya Bali, 22-31 Juli 2011 lalu, dilengkapi dengan sebuah buku yang mempresentasikan aneka proyek yang telah dirampungkan dalam dua puluh tahun terakhir. Buku dwibahasa bergaya coffee table book ini ditulis oleh Imelda Akmal, seorang penulis yang mengkhususkan diri dalam tulisan arsitektur.
Buku berjudul New Regionalism in Bali Architecture by Popo Danes ini terbilang ”cantik” dengan gambar arsitektur yang indah sehingga menggoda kita, sekali waktu, untuk memesan desain villa pada sang arsitek. Namun, hemat penulis, prinsip-prinsip yang melandasi praksis arsitektural Popo semestinya tampak dengan jelas melalui telaah teoritis tersendiri. Dan hendaknya pula dilengkapi secara visual dengan langkah-langkah proses kerjanya. Dengan demikian, kreativitas Popo akan dapat terbaca secara retrospektif. Alhasil, kita sejatinya ”ingin tahu” lebih banyak. Terpana oleh keindahan foto karya, kita agak sulit mengidentifikasikan dalam detail originalitas arsitektur Popo, rahasia suksesnya dengan klien, baik Indonesia maupun asing.
Untunglah, saya sedikit banyak mengenal proyek-proyek unggulan Popo. Di samping itu, selain pandai membuat cetak biru sebagaimana tergambar dalam pameran, Popo juga cakap menguraikan pikirannya melalui diskusi. Mendengarnya, baru kita mengerti filosofi karya arsitekturnya.
Pertama, yang tampak pada Popo ialah ”jarak” yang dia ambil terhadap tradisi Bali. Dia bertolak belakang dengan mereka yang, di Bali, mengideologikan tradisi itu—suatu kecenderungan yang amat mengemuka—tetapi dia juga mampu menggali hakikat dari tradisi itu. Yang penting baginya bukanlah mematuhi dengan ketat prinsip-prinsip kosmis Tri Mandala dan Tri Angga, tetapi menghormati keseimbangan dan perpaduan khas Bali antara ”ruang manusia”—ruang hunian—dan ”ruang alam”.
Yang tak kurang penting bagi dia adalah memanfaatkan sebanyak-banyaknya kecanggihan teknik pertukangan yang tersedia secara lokal. ”Kita di Indonesia dan di Bali khususnya mempunyai teknik-teknik yang tidak hanya unik, tetapi yang juga masih dikenal luas oleh para tukang kita. Kekhasan arsitektur modern kita—yang disebut regionalism dalam bukunya— hendaknya didasari penggunaan yang jeli dari warisan itu. Pertukangan khas dari kebanyakan negara, apakah di Eropa, Amerika bahkan di negara lainnya, pada umumnya sudah mati atau kelewat mahal. Adapun pertukangan yang masih ada, seperti di Thailand ataupun India, tidak dimanfaatkan oleh arsitek lokal yang masih terpesona oleh kemewahan ala Barat. Jadi, kita di Indonesia mempunyai keunggulan yang nyata dalam hal ini yang tinggal kita memanfaatkan sepenuhnya,” tutur Popo meyakinkan.
Dengan filosofi dasar Bali yang diacunya dan kepiawaiannya memadukan teknik lokal, ruang interior modern, serta ruang luar yang teradaptasi pada kondisi lokal, Popo Danes, disokong tim arsitek dan juru gambar yang kini mencapai 20-an orang, telah berhasil meramu suatu konsep ”arsitektur regional” yang lentur serta memikat bukan hanya klien Indonesia, melainkan juga aneka pemesan dari luar negeri, seperti Thailand, India, dan Malaysia. Tidak terhitung juga undangannya sebagai dosen tamu pada lembaga pendidikan arsitektur di dalam dan di luar negeri. Bahkan, pada berita terakhir dia diundang untuk menyelenggarakan pameran neo-arsitektur Balinya di Paris tahun depan.
Jadi, meski belum berusia 50 tahun, ”jam terbang” Popo sudah tergolong tinggi. Memang boleh jadi Popo adalah anak seorang pengusaha yang pada zamannya terkenal kemahirannya sebagai ”tukang membangun” rumah, tetapi ayahnya meninggal saat Popo remaja dan dia terpaksa bertarung sendiri. Pada umur 23 tahun, belum selesai kuliah arsitektur, dia sudah membangun hotel! Apa kunci suksesnya? keterbukaan. Dia menerima kemodernan tanpa takluk padanya dan menyadari keunggulan yang ada pada kelokalan tanpa memujanya. Suatu sikap yang menjamin kreativitas.
Apa yang disesalkan Popo dan kita semua? Bahwa di luar hotel mewah dan hotel yang cantik, kebijakan ruang di Bali dan penerapannya tidak memperlihatkan sikap yang serupa. Tradisi dijunjung—Bali konon menerapkan sistem Tri Hita Karana, keseimbangan antara ketuhanan, manusia, dan alam—tetapi juga kemacetan lalu lintas, sampah-sampah di jalan, dan persebaran villa dan rumah di tengah sawah yang berbicara lain. Popo, seperti kita, ”berteriak” melihat itu semua. Cuma teriakan kita agaknya kini memang kurang keras.