Street soccer

Dada Rosada Ingin Didongengi Kisah Ginan

Kompas.com - 17/08/2011, 15:05 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Wali Kota Bandung, Dada Rosada, rupanya penasaran dengan kisah di balik kapten Tim Street Soccer Indonesia, Deradjat Ginanjar Koesmayadi, untuk Homeless World Cup 2011 di Paris Perancis. Dia ingin mendengarkan cerita terjerumusnya ke narkotika.

Hal itu terjadi saat rombongan tim Indonesia bertemu dengan Wali Kota Bandung, Rabu (17/8). Dada meminta Ginan untuk menceritakan kisah lengkap mulai latar belakang keluarga, pendidikan, hingga dia dinyatakan positif HIV.

Ginan pun menceritakan bahwa awal tergelincirnya ke narkotika adalah sejak kelas 2 SMP dan kian buruk saat belajar di SMA hingga sempat diusir dari rumahnya. Dia juga bersentuhan dengan lembah hitam, berbuat kriminal demi memenuhi ketergantungannya kepada narkotika hingga pernah ditahan dan bahkan ditembak polisi.

Begitu dia ingin sembuh, dia sebelumnya memeriksakan HIV dan ternyata hasilnya positif. Ginan menduga, hal itu karena sering berganti jarum suntik.

"Ini gara-gara undang-undang narkoba yang di satu sisi membuat pengguna ketakutan dan memilih untuk menggunakan jarum suntik secara bergantian," kata Ginan.

Vonis positif itu ternyata tidak membuat Ginan terjerembab dalam duka. Dia pun berbenah, dimulai dari membuka identitasnya pada tahun 2002 dan mendirikan LSM Rumah Cemara untuk menjadi rumah bagi orang yang nasibnya sama.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau