Mujirah (42) membuat kolak labu kuning untuk berbuka puasa. Labu yang diolah itu hasil panenan pertama dari tanah yang sebelumnya hangus tersapu awan panas erupsi Gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta, pada Oktober 2010.
”Desember tahun lalu, saat menengok rumah dan ladang di Kinahrejo, saya menyebar benih waluh (labu kuning). Sekarang sudah panen,” kata Mujirah, Kamis (18/8), di hunian sementara pengungsi bencana letusan Gunung Merapi, di Dukuh Plosokerep, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman.
Kinahrejo di Dusun pelemsari adalah
kawasan pemukiman terdekat puncak Gunung Merapi, hanya sekitar empat kilometer. Sejak Januari 2011, Mujirah bersama 330-an kepala keluarga dari Dusun Pelemsari dan Pangukrejo mulai menetap di hunian sementara atau huntara Plosokerep.
”Sekali panen waluh sampai 720 kilogram. Saya mendapat uang hasil panenan lebih dari Rp 300.000,” ujar Mujirah.
Mujirah tinggal bersama ibunya, Karyojoyo, yang berusia 107 tahun. Mereka selamat dari letusan Merapi setelah mengikuti anjuran petugas untuk mengungsi.
Akibat letusan Merapi, dua sapi perahnya tewas terkena awan panas. Tiga sapi lainnya terluka, dan hingga kini masih mampu bertahan hidup.
Menjelang Lebaran, Mujirah tetap merasa beruntung walau tak akan ada roti kering menghias meja tamunya.
”Semua warga pedukuhan sekarang bisa saling silaturahim karena rumahnya di huntara dekat-dekat. Dulu mana bisa karena rumahnya berjauhan,” kata Mujirah.
Sumarni (43), tetangga Mujirah, mengatakan, akan merayakan Lebaran tahun ini dalam kesederhanaan. Bakal tak ada baju baru yang bakal ia berikan kepada kedua anaknya.
Setelah empat sapinya tewas saat Merapi meletus, ia kini bekerja menjadi pemecah batu. Dalam satu hari, ia mendapat uang Rp 8.750 untuk tujuh ember kerikil yang sudah dipecahkan.
Martono (65), penghuni huntara Plosokerep lainnya, kini menjadi tukang ojek wisata di Kinahrejo bersama sekitar 150 warga lainnya. Menurut Tri Ngatimin, koordinator Jasa Antar Kinahrejo untuk berwisata pemandangan Gunung Merapi dari Kinahrejo, ada solidaritas warga untuk menyisihkan Rp 5.000 dari hasil sekali angkut penumpang ojek sebesar Rp 20.000 di Kinahrejo.
Dana yang bersumber dari solidaritas tukang ojek wisata dan bantuan berbagai pihak kini mencapai Rp 250 juta. Dana kini terus dikumpulkan untuk membeli tanah relokasi mandiri di Dusun Karangkendal, Desa Umbulharjo.