Surati Nazar, Presiden Tak Konsisten?

Kompas.com - 22/08/2011, 11:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sehari setelah tersangka kasus dugaan suap proyek pembangunan wisma atlet SEA Games 2011 M Nazaruddin menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sekretaris Kabinet Dipo Alam mengatakan bahwa Presiden tak akan menanggapinya.

Pada surat tersebut, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat meminta agar Presiden tak mengganggu istri dan anaknya. Sebagai gantinya, Nazaruddin tak akan mengungkap keterlibatan para elit partai pemenang Pemilu 2009 tersebut pada kasus dugaan korupsi yang melilitnya.

Namun, dua hari setelahnya, tepatnya Minggu (21/8/2011), Presiden malah menyurati balik Nazaruddin. Beberapa pihak menyatakan hal ini sebagai bentuk inkonsistensi Presiden. Lantas, apa tanggapannya?

"Ya itu benar, bahwa pada kenyataannya ini memang tidak jelas konteksnya. Dalam arti tidak ada kaitannya antara Presiden dengan kasus hukum. Namun kita tahu bahwa beberapa hari ini (surat Nazaruddin) telah menjadi kontorversi di publik, telah menjadi perdebatan dan adanya dikaitkan dengan Presiden. Maka, oleh sebab itu, dipandang perlu untuk merespons untuk menjawab secara tertulis surat nazarddin seperti kemarin telah disampaikan," kata Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (22/8/2011).

Menurut Julian, ada dua esensial terkait surat yang disampaikan Presiden kepada Nazar pada Minggu (21/8/2011) kemarin. "Pertama, agar masyarakat Indonesia mengetahui duduk persoalannya. Kedua, agar (masyarakat) mengetahu secara baik posisi Presiden dalam menyikapi dan menanggapi atau merespon kasus-kasus hukum, termasuk proses hukum Nazaruddin," kata Julian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau