Pertamina

Sumur di Kutai Lama Dihidupkan Lagi

Kompas.com - 22/08/2011, 15:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertamina EP Unit Bisnis EP (UBEP) Sangasanga Tarakan menghidupkan lagi struktur South Kutai Lama (SKL) dengan mereaktivasi sumur SKL-176 di Anggana, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur pada Agustus 2011.

Demikian disampaikan Manajer Humas Pertamina EP, Agus Amperianto, Senin (22/8/2011), di Jakarta.

Hasil uji produksi awal pada sumur itu menunjukkan laju produksi 150 barel minyak per hari (BOPD). "Hal ini menambah optimisme kami dalam mempercepat pelaksanaan reaktivasi sumur-sumur suspended yang sudah diprogramkan di UBEP Sangasanga Tarakan," ujarnya.

Menurut Agus, UBEP Sangasanga Tarakan telah menyiapkan 10 sumur di struktur South Kutai Lama sebagai kandidat untuk diaktifkan kembali lengkap dengan fasilitas produksinya.

Struktur South Kutai Lama pertama kali ditemukan oleh BPM pada tahun 1902 dan telah dilakukan pemboran sebanyak 45 sumur pada struktur tersebut. Selanjutnya, struktur South Kutai Lama ditinggalkan sementara sejak 1981.

Selain struktur South Kutai Lama, Pertamina EP UBEP Sangasanga Tarakan juga telah melakukan reaktivasi di struktur Jembatan Bengkok di Samboja, dan struktur Mengatal di Tarakan.

Jadi, seluruh struktur yang jumlahnya mencapai 13 struktur di wilayah kerja UBEP Sangasanga Tarakan semuanya berstatus aktif. UBEP Sangasanga dan Tarakan merupakan salah satu unit bisnis yang berhasil melampaui target pada semester pertama tahun 2011.

Pada pertengahan tahun 2011, UBEP Sangasanga Tarakan berhasil mencapai 7.133 BOPD atau sekitar 114,7 persen di atas target. Kini, pada Agustus 2011 produksi UBEP Sangasanga Tarakan terus mengalami peningkatan menjadi 7.243 BOPD atau sekitar 117,2 persen di atas target.

UBEP Sangasanga dan Tarakan adalah unit bisnis Pertamina EP yang bertugas mengelola wilayah kerja Sangasanga dan Tarakan. Wilayah yang dikelola terdiri dari area Sangasanga seluas 5.325,5 Hektar, area Anggana/NKL 6.181,1 Ha, dan area Samboja 1.840 Ha.

Lapangan Sangasanga Tarakan sebelumnya dikelola oleh Technical Assistance Contract (TAC) Pertamina-Medco Kalimantan. Alih kelola lapangan Sangasanga Tarakan dilakukan Pertamina EP seiring dengan berakhirnya kontrak TAC Pertamina-Medco Kalimantan pada 14 Oktober 2008 lalu.

Selanjutnya pengelolaan lapangan terhitung mulai 15 Oktober 2008 dilaksanakan oleh Pertamina EP melalui Unit Bisnis Pertamina EP (UBEP) Sangasanga Tarakan. Paska alih kelola produksi lapangan tersebut menunjukkan trend peningkatan signifikan.

Pada tahun 2008 produksi minyak 4.300 barel per hari. Setelah alih kelola, Pertamina EP berhasil meningkatkan produksi menjadi 5.300 barel per hari, dan kini mencapai 7.243 barel per hari.

Selain itu, lapangan Sangasanga dan Tarakan juga telah melakukan upaya terkait dengan Ketaatan Lindungan Lingkungan. Berdasarkan hasil penilaian sementara tahun 2010 Kementerian Lingkungan Hidup terhadap upaya tersebut, kedua lapangan ini telah mendapatkan PROPER Biru.

Sejarah pengoperasian dan pengelolaan lapangan ini diawali oleh NIIHM (Nederlandsch-Indische Industrie en Handel Maatchappij) pada periode 1897-1905. Selanjutnya pengelolaan beralih kepada BPM (Batavia Petroleum Maatschappij) pada periode 1905-1942.

Jepang sempat mengelola lapangan ini pada 1942-1945. Selanjutnya terjadi beberapa kali peralihan dari BPM/SHELL/PERMINA/PERTAMINA pada periode 1945-1972, TIPCO - Tesoro pada 1972-1992, PTEN-MEDCO E&P pada 1992-2008, dan sejak 15 Oktober 2008 dikelola Pertamina EP. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau