JAKARTA, KOMPAS.com — Pelayanan kereta api kelas ekonomi pada angkutan Lebaran tahun ini dikhawatirkan tidak akan jauh berbeda ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya, anggaran subsidi operasional untuk kelas ekonomi (public service obligation/PSO) sebesar Rp 639 miliar belum dicairkan.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Ignatius Jonan, di sela-sela peninjauan kesiapan angkutan KA di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa (23/8/2011), mengatakan, kendati sudah berupaya semaksimal mungkin, belum cairnya PSO hingga saat ini tetap akan berpengaruh terhadap operasional kereta-kereta ekonomi.
"Kami sudah jauh-jauh hari meminta pemerintah melunasi kewajibannya. Namun, apa daya, bagaimanapun angkutan Lebaran harus tetap jalan," katanya.
Menurut dia, besaran PSO tersebut sebenarnya hanya sekitar 60 persen dari total biaya operasional kereta ekonomi sekitar Rp 1,2 triliun. Untuk itu, pihak PT KAI tidak bisa berbuat banyak untuk meningkatkan pelayanan KA ekonomi. Apalagi harga tiket belum juga dinaikkan karena proposal yang diajukan PT KAI tidak disetujui pemerintah dengan pertimbangan situasi sosial masyarakat yang tidak memungkinkan.
Kendati demikian, untuk tahun ini pihak PT KAI memberlakukan pengetatan toleransi penumpang bagi KA ekonomi sebesar 50 persen dari jumlah tempat duduk. Jonan berharap para penumpang kelas ekonomi bisa sedikit mendapat kenyamanan agar tidak terlalu berdesak-desakan dalam kereta yang pengap.
"Masyarakat jangan sampai berpikir bahwa moda kereta api ini tidak ada batasan daya angkutnya. Kalau tiketnya sudah habis, kami sarankan pindah ke moda angkutan lainnya," ujar Jonan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang