Moammar Khadafy Sang Pemimpin

Kompas.com - 24/08/2011, 08:00 WIB
Oleh: TRIAS KUNCAHYONO

Ia adalah "Al-Za'iim", Sang Pemimpin. Selama 42 tahun, Moammar Khadafy memimpin negerinya, Libya, sejak merebut kekuasaan lewat kudeta pada tahun 1969. Kini, sinar kekuasaannya mulai pudar. Ia baru menyadari bahwa kekuasaan ada batasnya. Walau ia bersumpah akan mempertahankan kursi kekuasaan sampai titik darah penghabisan, walau anaknya, Saif al-Islam, bersumpah akan menjadikan Tripoli banjir darah, apa artinya banjir darah jika itu adalah darah rakyatnya sendiri?

Seperti pepatah lama, honores mutant mores, saat manusia mulai berkuasa, berubahlah pula tingkah lakunya. Maka itu, sejarawan Lord Acton dalam suratnya kepada Mandell Creighton, tertanggal April 1887, menulis, "Power tends to corrupt, and absolute power to corrupt absolutely"—orang yang memiliki kekuasaan cenderung jahat, dan apabila kekuasaan itu demikian banyak, maka kecenderungan akan jahat itu semakin menjadi-jadi.

Kejahatan paling buruk seorang pemimpin itu adalah apabila ia merasa sudah lebih dari orang lain, menjadi manusia super, bahkan semidewa; minta dipuja-puja, bahkan minta dikultuskan. Itulah yang terjadi pada Khadafy.

"Saya seorang pemimpin internasional, pemimpin para penguasa Arab, raja diraja Afrika, dan status internasional saya tidak akan memungkinkan saya merosot ke tingkat yang lebih rendah," katanya dalam KTT Liga Arab, Maret 2009.

Dalam banyak tulisan, Khadafy digambarkan memerintah dengan tangan besi sejak berkuasa. Para mahasiswa dipaksa mempelajari teori-teori politiknya, seperti yang termuat dalam Buku Hijau. Partai-partai politik dilarang dan orang yang berani mengkritik dirinya dipenjara, disiksa, dan beberapa dibunuh.

Masa-masa pemerintahannya selama empat dekade menghasilkan sebuah negara yang sama sekali tidak memiliki institusi yang kredibel dan juga tak memiliki kelas menengah. Pada masanya, persatuan dengan mudah dijadikan alat bagi kekuasaan. Atas nama persatuan, ia dapat membuat politik apa pun, sesuai dengan nafsu kekuasaannya. Pemerintahannya berhasil mengelabui rakyat untuk berbakti dan menyembah berhala kepada "persatuan yang sakral dan mistis" itu.

Sebagaimana mitos dapat mengamankan kekuasaan para dewa, demikian pula mitos persatuan dapat mengamankan kekuasaan rezim Khadafy. Demikianlah, persatuan yang semula adalah sarana untuk mengejar dan meraih kemerdekaan sekarang menjadi alat untuk melestarikan kekuasaan yang justru membelenggu kemerdekaan.

Namun, semuanya kini mendekati akhir. Sama seperti Saddam Hussein, yang sering disebut sebagai "Singa dari Babilon", akhirnya tak mampu walau sekadar mengaum. Hosni Mubarak, yang karena kokoh kekuasaannya disebut sebagai "Sphinx Giza" atau "Firaun", runtuh juga. Moammar Khadafy, Sang Pemimpin itu, harus menyadari pula bahwa waktunya telah habis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau