Rudi (33) sehari-hari mengamen di Pulogadung, Jakarta Timur. Suatu ketika, ia ditawari kenalannya, Budi (52), membobol rumah yang ditinggal mudik pemiliknya di Kota Bogor, Jawa Barat. Budi merayu Rudi menjadi eksekutor dengan meyakinkan bahwa ”observasi” lapangannya menunjukkan rumah itu kosong.
Jadilah Rudi dan Budi berangkat ke Bogor dengan menumpang bus, Selasa (23/8). Sejak malam hari Rudi bersembunyi di rumah kosong di samping rumah target di Jalan Bangka, Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur. Sementara Budi menunggu di luar sambil mengawasi situasi sekitar. Jalan Bangka yang berada di belakang Terminal Baranangsiang merupakan kawasan perumahan.
Pada Rabu subuh, Rudi mencoba merangsek ke rumah dua lantai milik Wira Hadi Kosasih (63), pengusaha hasil bumi. Ia bersembunyi di kamar mandi yang berada di bagian belakang rumah itu. Kebetulan, kamar mandi itu berada di luar.
Namun, perhitungan Rudi dan Budi salah. Rumah itu masih berpenghuni. Sekitar pukul 05.30, Nunik (22), pembantu di rumah itu, keluar dan menuju ke kamar mandi. Begitu menyalakan lampu, Nunik kaget. Nunik berteriak lantaran melihat laki-laki di kamar mandi, dan Rudi pun kaget tak mengira rumah itu masih berpenghuni.
Rudi langsung memukul kepala Nunik dengan martil yang dipegangnya. Nunik melawan dengan menggigit jempol Rudi sambil terus berteriak. Suara itu didengar Wira yang turun dan berusaha menolong pembantunya. Ia mengambil tempat jemuran dan berusaha memukulkannya ke Rudi. Namun, dalam pergumulan itu Wira terpeleset dan terkena hantaman martil di pelipis kanan.
”Dia mau keluar, tapi enggak bisa karena semua pintu terkunci,” tutur Wira saat ditemui seusai mendapat perawatan di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia, Kota Bogor.
Perlawanan Rudi baru terhenti setelah Andi (34), anak laki-laki Wira, terbangun dan membantu ayahnya melawan pencuri itu hingga akhirnya Rudi bisa dilumpuhkan. Istri Wira juga berteriak memanggil tetangga sehingga mereka berdatangan dan menghajar Rudi. Sementara Budi kabur begitu tahu perhitungannya meleset.
Saat ditemui di ruang pemeriksaan Polsek Bogor Timur, terlihat luka lebam bekas pukulan di wajah Rudi. Dia mengaku baru sekali itu berusaha mencuri di rumah kosong. Namun, ia tak tahu apakah Budi sudah sering beraksi membobol rumah kosong. Dia mengaku tak berani banyak tanya ke Budi karena kerap dibentak.
”Saya itu biasanya mengamen di Pulogadung kasih setoran ke Budi alias Codet itu Rp 15.000 per hari. Dia juga yang membawa saya dari Klaten ke Jakarta sewaktu saya berumur tujuh tahun,” tuturnya.
Rudi bersedia menjadi eksekutor pencurian itu karena yakin Budi sudah memeriksa lokasi dan benar rumah itu kosong. Karena itu, dia mengaku tak membawa senjata, hanya martil, pahat, tali tambang, dan lilin. ”Katanya di lemari rumah itu banyak perhiasan,” tutur Rudi yang mengaku hendak menggunakan uang hasil curian untuk bersenang-senang.
Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Bogor Timur Ajun Komisaris Suharto menuturkan, pihaknya masih mengejar satu pelaku lagi yang bernama Budi. Menurut dia, pelaku mengincar rumah kosong dengan memanfaatkan momentum rumah- rumah yang ditinggal pemiliknya berlibur atau mudik. Namun, mereka salah perhitungan.
”Karena memang cukup rawan, sebagai antisipasi sebaiknya jika hendak meninggalkan rumah menitipkan ke tetangga atau ketua RT. Sebaiknya barang berharga seperti perhiasan di simpan di safety box, jangan di rumah,” tutur Suharto.