Datangi KPK, Nazaruddin Bungkam

Kompas.com - 25/08/2011, 12:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tersangka kasus dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games 2011, M Nazaruddin, kembali menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Kamis (25/8/2011).

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat tersebut akan dimintai keterangan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap dalam proyek bernilai Rp 191 miliar tersebut. Nazaruddin datang pukul 10.45 WIB di KPK.

Begitu keluar mobil tahanan, mantan politisi Demokrat itu langsung dikerubuti pewarta foto. Dengan muka tertunduk, Nazaruddin yang kembali memakai kemeja biru itu, memasuki gedung KPK tanpa memberikan pernyataan apa pun kepada wartawan.

Sebelumnya, Juru Bicara KPK Johan Budi SP mengatakan, walaupun Nazaruddin berencana bungkam di hadapan penyidik, hal itu tidak akan mengganggu proses pengusutan dugaan kasus suap tersebut.

Menurut Johan, pengakuan Nazaruddin bukan satu-satunya yang menentukan dalam kasus dugaan suap tersebut. "Kita tidak semata-mata mengejar pengakuan, tetapi kan juga mengejar alat bukti yang lain, dan juga keterangan dari saksi-saksi yang lain," kata Johan.

Seperti diberitakan, Nazaruddin melalui kuasa hukumnya, OC Kaligis, mengancam bungkam jika tidak dipindahkan dari Mako Brimob. Kaligis beralasan, menurut dokter yang memeriksa Nazaruddin, mental kliennya akan rusak jika dalam seminggu tidak pindah rutan.

Pernyataan itu dibantah dr Anton Castilani, kepala tim pemeriksaan dan perawatan kesehatan Nazaruddin. Menurut dia, kondisi mental dan fisik Nazaruddin masih normal. Stres yang dialami anggota DPR itu juga masih dalam batas wajar. Tim dokter, kata Anton, tidak pernah merekomendasikan Nazaruddin untuk pindah tahanan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau