Setelah berbulan-bulan emas mencatat rekor harga tinggi, akhirnya pasar melakukan koreksi. Rabu (24/8) harga emas ditutup pada 1.757 dollar AS per troy ounce
Meski banyak analis memperkirakan harga emas akan terus bertahan tinggi selama perekonomian AS dan Uni Eropa tetap penuh ketidakpastian, sebagian yang lain mengingatkan untuk melihat fundamental ekonomi secara keseluruhan.
Turunnya harga emas pada Rabu lalu karena permintaan untuk barang manufaktur jangka panjang di AS meningkat di atas yang diperkirakan sebelumnya yang menandakan adanya kegiatan ekonomi. Selain itu, Pemerintah China juga menetapkan aturan baru untuk menyediakan jaminan lebih besar bila meminjam uang untuk membeli emas.
Emas dianggap sebagai investasi aman saat orang khawatir akan meningkatnya utang AS, inflasi, dan krisis utang Uni Eropa. Pada Oktober 2007 harga emas 740 dollar AS per troy ounce (1 troy ounce setara 31 gram). Ketika resesi mulai terjadi pada akhir 2007, harga emas bergerak naik. Pada Juli 2011 harganya 1.482,6 dollar AS dan Rabu (24/8) menyentuh 1.913,5 dollar atau naik 29 persen dalam waktu kurang dari dua bulan.
Meski begitu, investasi pada emas tetap mengandung risiko. Karena emas tidak memberi pembagian keuntungan seperti pada obligasi atau mewakili saham seperti ketika berinvestasi di saham, harga emas ditentukan ekspektasi orang. Dengan situasi ekonomi di AS dan Uni Eropa yang belum memberi tanda perbaikan dalam waktu dekat, tidak mengherankan banyak yang meyakini emas akan menembus harga 2.000 dollar AS akhir tahun ini.
Penasihat dan praktisi keuangan dari AS, Jim Rogers, dalam bukunya Hot Commodities (John Wiley & Sons, 2010) mengatakan, harga emas akan ditentukan oleh faktor permintaan dan penawaran, termasuk di dalamnya pasokan dari pertambangan; inflasi dan krisis keuangan; serta melemahnya dollar AS.
Meskipun harga emas kini menguat, Rogers mengingatkan ada banyak komoditas lain yang memberi keuntungan sama baik bahkan lebih baik daripada emas. Salah satunya timbal yang permintaannya naik, terutama karena industrialisasi di China, yang tidak sebanding dengan pasokan.
Pada intinya Rogers, yang ikut mendirikan Quantum Fund dan pernah bekerja di Wall Street, menemukan bahwa komoditas adalah investasi tak kalah menarik dan menguntungkan daripada saham dan obligasi.
Rogers mengutip hasil penelitian Prof Gary Gorton dari Wharton School, University of Pennsylvania, dan Biro Riset Ekonomi Nasional AS, serta Prof K Geer Rouwenhorst dari Yale School of Management. Sejak 1959, pasar futures komoditas memberi hasil tahunan lebih baik daripada saham dan jauh lebih baik daripada obligasi. Risikonya pun lebih kecil daripada dua instrumen investasi itu.
Selama 1970-an, kinerja komoditas lebih baik daripada saham dan selama 1980-an terjadi sebaliknya. Korelasi negatif itu berarti pasar komoditas yang kuat (bull) berjalan bersama pasar saham yang lemah (bear).
Hasil investasi pada komoditas berhubungan positif dengan inflasi. Meningkatnya harga komoditas menyebabkan harga tinggi yang berarti inflasi. Karena itu, hasil investasi pada komoditas lebih baik daripada saham dan obligasi pada masa inflasi tinggi.
Namun, selama ini komoditas, termasuk emas, kurang mendapat perhatian. Kini, serbuan pada emas membuka mata untuk berinvestasi pada komoditas. Kerena itu, agar tidak buntung dalam investasi, tetap harus memahami karakter masing-masing komoditas, seperti gula, kopi, logam berat seperti timbal, hingga minyak.