Pemudik dengan Bus Menurun

Kompas.com - 27/08/2011, 03:41 WIB

jakarta, kompas - Jumlah pemudik Lebaran yang memilih moda bus tercatat terus berkurang setiap tahunnya. Penyebabnya, antara lain, kemudahan membeli sepeda motor dan maraknya mudik bersama secara gratis yang diadakan perusahaan ataupun kelompok. Di sisi lain, jumlah penumpang pesawat semakin bertambah.

”Jika dibandingkan dengan pengangkutan reguler, memang ada peningkatan jumlah penumpang. Namun, kalau dibandingkan dengan tahun lalu, saat ini jumlah pemudik yang menggunakan bus berkurang,” kata Kepala Terminal Kalideres Hengki Sitorus, Jumat (26/8).

Data dari terminal itu menunjukkan bahwa saat puncak arus mudik tahun 2009, ada 16.255 orang yang diberangkatkan dengan 698 unit bus. Setahun kemudian, pemudik terbanyak ”hanya” 10.562 orang dengan 592 unit bus. Di Terminal Pulo Gadung, jumlah penumpang yang berangkat pada H-5 Lebaran tahun 2010 sebanyak 4.700 orang, sedangkan pada tahun ini 4.081 penumpang.

Berkurangnya pengguna bus ini menyebabkan lima perusahaan otobus (PO) yang ada di Terminal Kalideres tidak lagi mengambil penumpang dan membuka loket di sana. ”Mereka tidak sanggup membayar retribusi karena tidak ada penumpang. Itu terjadi sepanjang 2010 hingga pertengahan 2011 ini,” kata Hengki.

Petugas loket PO Putra Sulung, Herman (51), menduga, berkurangnya jumlah penumpang bus disebabkan semakin maraknya acara mudik bersama dengan harga murah, bahkan gratis. ”Seharusnya pengelola acara seperti itu bekerja sama dengan perusahaan bus yang selama ini melayani trayek tujuan mudik. Kalau tidak, PO semakin sulit bertahan,” ujarnya.

Kepala Terminal Kampung Rambutan Dwi Basuki mengatakan, masyarakat saat ini cenderung memilih mudik menggunakan kendaraan pribadi. Oleh karena itu, bus semakin tidak diminati.

Memilih sepeda motor

Banyak pemudik dengan moda bus yang juga berpindah ke sepeda motor. Dikdik (42), misalnya, tahun ini mudik dari Bandung ke kampungnya di Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, menggunakan sepeda motor. Alasannya, ia kapok berdesak-desakan dalam kendaraan umum saat mudik dan balik. ”Sekarang saya sudah bisa mencicil motor. Jadi, daripada repot, lebih baik naik motor. Lebih irit dan cepat sampai,” katanya.

Pemudik lain dengan tujuan Madura, Ridho (27), mengaku terpaksa saat memutuskan menumpang bus. Menurut dia, naik bus sangat tidak nyaman karena harus berdesak-desakan dan jenuh ketika menunggu keberangkatan bus. ”Kalau punya, saya lebih baik pulang ke Madura naik motor,” ujarnya.

Pesawat paling diminati

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta dilaporkan, jumlah penumpang pesawat pada tahun ini meningkat sebanyak 24 persen. Hingga kemarin, tercatat 133.216 penumpang telah berangkat. Pada tahun sebelumnya di periode yang sama sebanyak 107.855 orang.

Pengelola bandara mendapat permohonan penambahan 560 jadwal penerbangan dalam dan luar negeri pada musim Lebaran tahun ini. Jumlah itu terdiri atas 347 penerbangan dalam negeri dan 213 penerbangan internasional.

Penambahan penerbangan dalam negeri untuk tujuan Denpasar sebanyak 108 penerbangan, Padang (32), Medan (28), dan Surabaya (18). Sementara itu, untuk penerbangan internasional, Singapura sebanyak 160 penerbangan, Hongkong (29), dan Korea Selatan (18).

Terlambat

Besarnya minat penumpang pesawat terlihat dari padatnya Bandara Soekarno-Hatta. Hal ini berimbas pada terlambatnya ratusan jadwal penerbangan dalam dan luar negeri, mulai dari 15 menit hingga lebih dari satu jam, pada Kamis dan Jumat.

Hingga Jumat pukul 14.26, posko Lebaran 2011 mencatat, 236 dari 445 penerbangan mengalami keterlambatan penerbangan. Sebelumnya, pada Kamis dini hari hingga tengah malam tercatat sebanyak 546 dari 1.006 penerbangan terlambat.

”Penyebab keterlambatan karena kepadatan penumpang di jam-jam tertentu, kesiapan maskapai, SDM kurang, dan faktor cuaca,” kata Ketua Posko Mudik Bandara Soekarno-Hatta Jaya Tahoma Sirait di Terminal 1.

Sirait menambahkan, dalam dunia penerbangan penundaan terbang normal adalah 15 menit. Lebih dari 15 menit itu tidak normal. (HEI/DEN/CHE/PIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau