NATO Paksakan Kehendak

Kompas.com - 27/08/2011, 04:04 WIB

LONDON, Jumat - Pemerintah Libya di bawah Moammar Khadafy sebenarnya telah mencoba melobi AS agar Pakta Pertahanan Atlantik Utara jangan membombardir Libya. Namun, NATO dan Amerika Serikat selalu menutup pintu negosiasi.

Upaya China, Rusia, dan Uni Afrika (UA) agar konflik di Libya diselesaikan lewat perundingan internal, antara oposisi dan kubu Khadafy, pun tidak pernah berterima bagi NATO dan AS.

Harian Inggris, The Guardian, edisi Jumat (26/8), London, juga mengutip sebuah dokumen rahasia. Isinya, antara lain, soal keyakinan Tripoli bahwa kekuatan NATO akan melakukan serangan besar-besaran pada akhir September dan Oktober, bukan pada bulan Ramadhan, Agustus.

Sejak NATO memiliki otoritas untuk mengawasi dan menyerang angkasa Libya mulai 31 Maret, sudah ada 20.000 pengintaian, termasuk 7.635 serangan NATO di Libya. Sebanyak 16 kapal di bawah NATO juga sudah mengawasi Laut Tengah untuk mengawasi embargo ke Libya.

Paham akan bahaya itu, atas perintah Khadafy, Pemerintah Libya menuliskan surat kepada Presiden AS Barack Obama dan dengan sopan memanggil Obama sebagai ”Mr President”. Libya saat itu mengeluh soal pembekuan aset Libya oleh AS.

Dokumen itu juga menyebutkan anggota Kongres AS, Dennis Kucinich (Demokrat), penentang aksi militer NATO ke Libya, dicoba digunakan Libya untuk melobi pemerintahan AS. Kucinich membantah, tetapi dia mengatakan memang berencana bernegosiasi dengan Pemerintah Libya dan Khadafy.

AS berperan besar

Kucinich membatalkan semua itu karena serangan bertubi-tubi sudah dilakukan NATO ke Libya dan menjadikan negara tersebut tidak aman untuk dikunjungi.

Kantor berita Agence France- Presse (AFP) juga menuliskan, AS berperan besar di balik penjungkalan Khadafy walau di permukaan dibuat tidak transparan. Kesan di permukaan, yang berperan di Libya adalah Dewan Transisi Nasional (NTC).

Namun, intelijen AS sejak awal sudah melakukan perang penting. Tujuannya adalah mengincar Khadafy agar dia bisa dilacak terus dan tidak bisa melakukan perlawanan terhadap penegakan pemerintahan baru di bawah NTC.

”Tujuannya adalah ’menekuk’ Khadafy sebelum dia terlanjur melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan baru,” kata Bruce Riedel, seorang mantan pejabat CIA dan kini peneliti senior di Brookings Institution.

Sikap NATO dan AS membuat Libya menjadi ajang pertempuran. Hingga kemarin, UA menyatakan tidak mau mengakui NTC sebagai penguasa.

Sejauh ini sudah ada lebih dari 20.000 orang tewas di Libya sejak revolusi 17 Februari, menurut NTC. Kekacauan logistik juga mencengkeram Libya, termasuk logistik di sejumlah rumah sakit. Pada hari Jumat, misalnya, ditemukan 80 tubuh tak berdaya di sebuah rumah sakit di Tripoli. Dari jumlah itu, hanya 17 tubuh yang ditemukan hidup, termasuk seorang anak, yang menjadi korban karena terjebak pertempuran berhari-hari.

Tumpukan jenazah juga ditemukan di sejumlah rumah sakit lain di Libya dari pihak oposisi maupun Khadafy. Pada hari Jumat juga ditemukan 30 jenazah loyalis Khadafy yang tewas akibat pertempuran, diperparah dengan serangan-serangan NATO.

(AFP/AP/REUTERS/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau