Budi Suwarna
Wahyu melayang di udara dalam gerakan lambat (slow motion
Siapakah Wahyu? Dia adalah remaja tanggung asal kampung Langitan di kaki pegunungan Bromo yang punya bakat alam sebagai pemain sepak bola. Tendangannya menggeledek dan akurat. Dia juga punya mimpi besar menjadi pemain sepak bola profesional seperti idolanya, Irfan Bachdim.
Hasan, seorang pelatih sepak bola kelas kampung, melihat bakat yang dimiliki Wahyu. Laki-laki pincang itu merekrutnya sebagai pemain bayaran untuk sejumlah pertandingan antarkampung (tarkam). Kehadiran Wahyu membuat turnamen kian menarik dan arena perjudian sepak bola bergairah.
Darto, ayah Wahyu, tidak senang anaknya bermain sepak bola, apalagi terlibat di turnamen tarkam. Dia takut sepak bola akan menghancurkan hidup Wahyu seperti dirinya. Darto memang punya trauma. Ketika muda, dia adalah pemain sepak bola terkenal di kampungnya. Dia punya mimpi bermain di stadion yang megah. Namun, mimpi itu harus dikuburnya dalam-dalam lantaran kakinya patah pada pertandingan tarkam justru pada saat dia nyaris bergabung dengan klub Persema.
Meskipun dilarang, Wahyu telah memilih jalan hidupnya sebagai pemain sepak bola. Dia mendapat kesempatan mengikuti seleksi pemain di Persema. Namun, apa yang ditakuti Darto terjadi juga. Wahyu gagal pada saat kesempatan untuk bergabung dengan Persema sudah di depan mata. Penyebabnya nyaris sama dengan penyebab kegagalan ayahnya: kaki Wahyu cacat.
Dengan bantuan banyak orang, terutama cewek yang ditaksirnya, Indah, Wahyu berhasil mengatasi kelemahan di kakinya sekaligus mewujudkan mimpinya bermain di Persema.
Tendangan dari Langit,
Hanung membedah persoalan sepak bola Indonesia tidak dari Jakarta, tetapi dari sebuah desa di kaki Pegunungan Bromo yang indah. Mimpi memajukan sepak bola Indonesia hadir bersama kabut dan hawa dingin. Adegan Wahyu, Irfan Bachdim, dan Kim Kurniawan berkejaran di celah bukit pasir Bromo yang berkabut kemudian menendang bola hingga menembus awan terasa sangat simbolik kontradiktif. Inilah generasi baru sepak bola Indonesia yang dibentuk dari proyek naturalisasi dan seleksi pemain lokal.
Mimpi-mimpi, percintaan remaja, problem sepak bola, dan sentilan politik diracik tanpa kesan berlebihan. Adegan yang menggelikan juga diselipkan di sana-sini. Contohnya ketika Wahyu bertanya kepada Indah, apa arti tulisan tangan ”Never Give Up” pada poster Irfan Bachdim yang diperoleh dari Timo Scheunemann, Pelatih Persema.
Indah, yang sedang sewot kepada Wahyu, dengan berang mengatakan, ”Jangan pernah temui aku lagi.” Wahyu yang polos segera menuliskan kalimat ”Jangan pernah temui aku lagi” di bawah kalimat ”Never Give Up” dan dengan bangga menempelkan poster tersebut di dinding kamarnya.
Yosie Kristanto, pemeran Wahyu yang terjaring lewat audisi, tampil cukup natural. Kepolosan dan keluguannya cukup terasa. Meski begitu, gerak tubuhnya masih terlihat canggung sebagai pemain sepak bola. Maklum, di dunia nyata dia memang bukan pemain sepak bola, melainkan futsal. Itu pun hanya di lingkungan sekolah.
Kehadiran Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan di film itu terasa lebih sebagai gimmick untuk penonton yang sebagian mungkin menjadi penggemar berat kedua bintang Persema itu. Sepanjang film, Irfan hanya berdialog satu kali, sementara Kim tidak diberi kesempatan berdialog sama sekali. Adegan yang diberikan kepada mereka pun sebatas berlari-lari dan duduk-duduk.
Film produksi Sinemart yang disiapkan sebagai tontonan musim libur Lebaran ini cukup menarik. Film dikemas sebagai sport film, film olahraga, yang termasuk langka dibuat di Indonesia. Heroisme di lapangan dan mimpi anak kampung yang ingin menjadi bintang arena menjadi dramatika yang mampu menggerakkan emosi penonton. Ketegangan, rasa letih, putus asa, sedih, gembira, dan histeria yang biasa meruak di arena pertandingan olahraga bisa dirasakan gregetnya.